Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi Satu Bulan di Tengah Meningkatnya Risiko Geopolitik
Harga West Texas Intermediate (WTI), sebagai patokan minyak mentah Amerika Serikat, bergerak stabil di sekitar US$86,00 pada perdagangan hari Jumat. Harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan karena pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan “operasi ekonomi paling menghancurkan” terhadap Iran serta peringatan mengenai sanksi terhadap pihak-pihak yang membantu Teheran meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan semakin meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam ancaman sanksi baru dari AS sebagai tindakan yang “ilegal dan tidak manusiawi”. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukannya telah mengalihkan 67 kapal dagang, melumpuhkan tiga kapal, serta menaiki dua kapal lainnya yang melakukan perjalanan menuju atau dari pelabuhan Iran sebagai bagian dari penerapan kembali blokade laut. Eskalasi konflik AS-Iran berpotensi meningkatkan risiko terhadap jalur distribusi minyak dan memberikan dukungan terhadap harga WTI dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan harga minyak masih menghadapi hambatan dari sisi fundamental. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir 14 Agustus meningkat sebesar 4,405 juta barel, setelah sebelumnya melonjak 17,422 juta barel. Hasil tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 600.000 barel. Peningkatan persediaan tersebut mencerminkan tekanan dari sisi pasokan dan berpotensi membatasi ruang kenaikan WTI.
TD Securities menilai prospek pasar minyak mentah masih menghadapi tantangan, terutama karena negosiasi yang tertunda selama beberapa pekan dan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Iran. Namun, kondisi tersebut juga berpotensi membuat arus minyak mentah di pasar tetap ketat. Risiko gangguan pasokan akibat ketegangan Iran dan aktivitas di jalur pelayaran kawasan Oman turut menjadi faktor yang menjaga sentimen bullish terhadap minyak. Dengan demikian, perkembangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.
Dari perspektif teknikal, bias jangka pendek WTI masih cenderung bullish setelah harga berhasil menembus SMA 100-hari dan garis tengah Bollinger Bands. RSI (14) berada di 59,00, menunjukkan momentum positif yang masih sehat dan belum memasuki kondisi jenuh beli. Resistance terdekat berada di sekitar US$88,18, yaitu batas atas Bollinger Band. Sementara itu, support awal berada di US$85,85 pada SMA 100-hari, diikuti US$81,20 pada garis tengah Bollinger Bands. Jika tekanan jual meningkat, support berikutnya berada di sekitar US$74,25. Selama WTI mampu bertahan di atas US$85,85, peluang melanjutkan kenaikan menuju US$88,18 masih terbuka.
sumber : fxstreet
