Dolar AS Tertekan, Dekati Level Terendah Sejak Akhir Mei 2026
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak melemah dan diperdagangkan di sekitar 98,69 pada awal sesi Eropa hari Kamis, mendekati level terendah sejak akhir Mei 2026. Tekanan terhadap Dolar terutama berasal dari berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelemahan pasar tenaga kerja AS pada Juli serta data inflasi yang relatif jinak semakin memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter tanpa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September kini berada di sekitar 32,7%, turun dari 47% sebulan sebelumnya. Selain faktor kebijakan moneter, Dolar juga menghadapi tekanan dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang berencana meningkatkan operasi pembelian kembali obligasi jangka panjang. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengendalikan biaya pinjaman pemerintah, sementara meningkatnya kekhawatiran mengenai besarnya utang nasional AS turut menjadi faktor yang membatasi daya tarik Greenback.
Meski demikian, risiko geopolitik masih memberikan potensi dukungan bagi Dolar sebagai aset safe haven. Konflik AS-Iran yang belum terselesaikan serta ketidakpastian mengenai Selat Hormuz membuat investor tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan langkah ekonomi yang lebih keras terhadap Iran, sementara Uni Emirat Arab menyatakan menangguhkan perdagangan dengan Teheran setelah serangan rudal. Perkembangan tersebut menjaga risiko geopolitik tetap tinggi, meskipun Iran membantah terlibat dalam serangan terhadap UEA.
Dari perspektif pasar, Dolar saat ini cenderung bergerak sideways karena investor harus menyeimbangkan dua faktor yang berlawanan, yaitu meningkatnya risiko geopolitik dan melemahnya prospek kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut membuat pasar belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk mendorong Dolar naik secara berkelanjutan. Selama ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed terus berkurang dan imbal hasil obligasi AS berada di bawah tekanan, DXY berpotensi tetap menghadapi tekanan bearish.
Secara teknikal, bias jangka pendek DXY masih bearish karena indeks berada di bawah SMA 100-hari dan garis tengah Bollinger Band. RSI berada di 29,60, menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold) sehingga risiko rebound teknikal mulai meningkat. Support terdekat berada di 98,55 yang merupakan batas bawah Bollinger Band. Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi berlanjut. Sebaliknya, resistance berada di 99,72 pada SMA 100-hari, kemudian 100,00 pada garis tengah Bollinger Band. DXY perlu kembali menembus dan bertahan di atas 99,72–100,00 untuk mengurangi tekanan bearish, sementara kegagalan merebut zona tersebut akan mempertahankan peluang pelemahan lebih lanjut.
sumber : fxstreet
