Dolar AS Tertekan, Emas Menguat Setelah Risalah FOMC

Indeks Dolar AS (DXY) kembali mengalami tekanan pada Rabu dan bergerak di bawah level 99,00 setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan operasi pembelian kembali surat utang pemerintah. Langkah tersebut meningkatkan likuiditas di pasar obligasi dan turut menekan imbal hasil, sehingga mengurangi daya tarik Dolar AS.

Risalah rapat FOMC bulan Juli menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat masih menilai inflasi berada pada level tinggi dan beberapa anggota bahkan mendukung kenaikan suku bunga. Namun, pasar menilai risalah tersebut cenderung melihat kondisi masa lalu karena setelah pertemuan tersebut, AS telah merilis sejumlah data inflasi dan ketenagakerjaan yang lebih lemah. Kondisi ini membuat ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi lebih dovish dan membebani Dolar AS.

Pelemahan Greenback memberikan dukungan terhadap mata uang utama. EURUSD naik melewati 1,1675 dan mencapai level tertinggi sejak akhir Mei 2026, sementara GBPUSD menembus 1,3600 dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan setelah data inflasi Inggris menunjukkan tekanan harga yang masih kuat. Di sisi lain, USDJPY melemah menuju 158,00 akibat turunnya imbal hasil obligasi AS dan berkurangnya permintaan terhadap Dolar.

Emas menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan dari pelemahan Dolar dan penurunan imbal hasil obligasi AS. Harga XAUUSD melonjak melewati US$4.500 per troy ounce, sementara Perak juga mencatat penguatan signifikan. Minyak WTI relatif stabil di sekitar US$84 per barel, dengan pasar masih memperhatikan perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan energi global.

Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data penting, terutama laporan ketenagakerjaan Australia, keputusan suku bunga People’s Bank of China (PBoC), Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS, dan Survei Manufaktur The Fed Philadelphia. Pernyataan pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter. Secara keseluruhan, pelemahan Dolar dan turunnya imbal hasil obligasi masih menjadi katalis positif bagi Emas, sementara arah berikutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi dan komentar pejabat The Fed.


sumber : fxstreet