Harga Minyak Menguat, Kekhawatiran Gangguan Pasokan Selat Hormuz Menopang Harga
Harga West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,17% ke level US$82,09 per barel pada awal perdagangan sesi Eropa hari Jumat, melanjutkan pemulihan setelah mengalami koreksi selama dua hari. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menopang harga minyak.
Analis TD Securities menilai fundamental pasar minyak mentah dan produk masih cukup ketat sehingga berpotensi mendukung kenaikan harga lebih lanjut. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz memang sedikit meningkat pada Kamis, tetapi masih berada jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik. Berdasarkan data Kpler, jumlah kapal yang melintas tetap lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sekitar 12 kapal pada Agustus 2026.
Situasi di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab masih menjadi perhatian karena keduanya merupakan jalur penting bagi pasokan energi global. Iran juga menyatakan belum melakukan pembicaraan dengan AS terkait pembukaan kembali Hormuz, sementara Teheran mengaku berada pada tahap akhir pembahasan dengan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur pelayaran tersebut. Ketidakpastian ini membuat premi risiko tetap tertanam dalam harga minyak.
Dari sisi permintaan, OPEC justru menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi 580 ribu barel per hari, dari perkiraan sebelumnya 780 ribu barel per hari. Revisi tersebut menjadi faktor yang berpotensi membatasi kenaikan WTI apabila pertumbuhan permintaan global menunjukkan perlambatan.
Secara teknikal, WTI masih memiliki bias bullish jangka pendek karena harga bertahan di atas EMA 20-hari di US$80,04. RSI berada di sekitar 51, menunjukkan momentum positif yang masih moderat. Selama harga mampu bertahan di atas US$80,04, peluang kenaikan lanjutan tetap terbuka. Sebaliknya, penutupan harian di bawah level tersebut dapat melemahkan momentum bullish dan membuka ruang koreksi menuju zona US$70-an.
sumber : fxstreet
