Harga Minyak Menguat Tiga Hari Beruntun, Risiko Geopolitik Jadi Pendorong
Harga West Texas Intermediate (WTI) menguat selama tiga hari berturut-turut dan bergerak di US$83,53, naik 0,35% saat berita ini ditulis Pukul 13.40 WIB pada perdagangan hari Rabu, mendekati level tertinggi hampir dua minggu yang dicapai pada hari sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah.
Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum tuntutan Teheran dipenuhi. Di sisi lain, serangan terbaru kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal-kapal di Laut Merah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan dan pasokan energi global. Kondisi tersebut mempertahankan premi risiko geopolitik dan memberikan dukungan bagi harga minyak.
Secara teknikal, WTI masih berada di atas level Fibonacci retracement 38,2% dari penurunan Juli–Agustus sehingga bias jangka pendek tetap bullish. Relative Strength Index (RSI) berada di 64,63 dan masih berada di wilayah positif, tetapi belum memasuki kondisi jenuh beli. Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga berada di wilayah positif, mengindikasikan momentum kenaikan masih cukup kuat.
Jika penguatan berlanjut, resistance terdekat berada di Fibonacci retracement 50% pada US$82,93. Penembusan level tersebut dapat membuka peluang menuju US$85,13, kemudian US$88,27 dan US$92,26 sebagai resistance yang lebih tinggi.
Sebaliknya, support terdekat berada di US$80,73, diikuti US$78,00. Jika tekanan jual meningkat, WTI berpotensi menguji swing low di US$73,60 yang menjadi support struktural penting. Selama harga bertahan di atas area support tersebut, prospek jangka pendek WTI masih cenderung bullish.
sumber : fxstreet
