Emas Terkoreksi di Bawah US$4.400, Fokus Beralih ke Inflasi AS
Harga emas (XAUUSD) terkoreksi dari level tertinggi sejak 5 Juni 2026 yang dicapai pada Selasa dan kembali bergerak di bawah US$4.400 pada sesi awal Eropa. Meskipun data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang lemah menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih dapat menaikkan suku bunga hingga akhir tahun tetap menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat tekanan tersebut. Iran menolak kemungkinan negosiasi lebih lanjut dengan Presiden AS Donald Trump dan menyatakan akan menunggu hingga berakhirnya masa jabatan Trump pada Januari 2029 sebelum melanjutkan pembicaraan. Kondisi ini mengurangi harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara itu, gangguan lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb akibat blokade Houthi turut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi.
Kenaikan harga energi berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan yang lebih hawkish. Ekspektasi tersebut menopang imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan Dolar AS (USD), sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap emas. Investor kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang akan dirilis pada Rabu dan Kamis untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Secara teknikal, struktur emas masih cenderung bullish setelah harga berhasil menembus SMA 100-hari dan Fibonacci retracement 50%. RSI berada di 68,89, mendekati wilayah jenuh beli, sementara MACD tetap positif. Namun, harga masih menghadapi resistance penting di SMA 200-hari sekitar US$4.498.
Resistance berikutnya berada di US$4.515. Jika berhasil ditembus, emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju US$4.669 dan US$4.867. Sebaliknya, koreksi lebih lanjut dapat membawa harga menuju support US$4.297 dan US$4.162, dengan support struktural berikutnya di sekitar US$3.945. Dengan demikian, tren utama masih konstruktif, tetapi arah pergerakan berikutnya sangat bergantung pada data inflasi AS dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
sumber : fxstreet
