Harga Minyak Rebound Terbatas di Tengah Ketidakpastian Selat Hormuz
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan pemulihan pada perdagangan Kamis kemarin dan diperdagangkan di level US$77,91 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.00 WIB pada hari Jumat. Namun, performa minyak masih tertekan dalam dua pekan terakhir akibat meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka, mengingat jalur tersebut menjadi salah satu titik penting bagi distribusi hampir 20% pasokan energi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan penundaan serangan terhadap Iran setelah mengklaim adanya kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian ancaman nuklir Iran. Namun, kepastian mengenai kesepakatan tersebut masih diragukan setelah Iran mengungkapkan adanya proposal bersama Oman untuk mengelola jalur strategis tersebut, yang berpotensi mendapat penolakan dari negara-negara yang mendukung kebebasan navigasi.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Arab Saudi berpotensi meningkatkan operasi militernya terhadap Houthi setelah adanya serangan di wilayah Najran dan terhadap pasukan pemerintah Yaman.
Secara teknikal, WTI masih berada dalam tekanan bearish jangka pendek karena harga bergerak di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di level US$79,32. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 46,44, menunjukkan momentum penurunan mulai melemah namun belum memberikan sinyal pembalikan tren bullish.
Dari sisi level penting, area resistance terdekat berada pada EMA 20 hari di US$79,32. Jika berhasil ditembus, harga berpotensi menguji level tertinggi 31 Juli 2026 di US$86,09. Sebaliknya, tekanan jual dapat kembali meningkat apabila WTI menembus support US$73,51, dengan target penurunan berikutnya menuju level terendah Juli 2026 di US$67,02.
sumber : fxstreet
