Harga Minyak Tertekan, Imbas Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Harga West Texas Intermediate (WTI) kembali melemah dan diperdagangkan di kisaran US$74 per barel, mendekati level terendah dalam tiga minggu. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz, jalur yang dilalui hampir 20% pasokan energi dunia, akan segera dibuka kembali sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Optimisme tersebut muncul setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Iran dan Oman hampir menyelesaikan kerangka kerja pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz. Seorang pejabat senior Teluk bahkan memperkirakan peluang tercapainya kesepakatan pada hari Jumat mencapai 50%. Meski demikian, pasar masih menantikan respons dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, yang sebelumnya menolak upaya Iran untuk memperluas otoritasnya di jalur strategis tersebut.
Di sisi lain, pernyataan terbaru Iran sedikit bertolak belakang dengan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut bahwa Iran telah menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan segera. Perbedaan pandangan ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati sambil menunggu konfirmasi resmi mengenai kesepakatan tersebut.
Dari sisi teknikal, tren harga WTI masih cenderung bearish. Harga bergerak jauh di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di sekitar US$79,24, sementara indikator Relative Strength Index (RSI) berada di kisaran 42, yang menunjukkan tekanan jual masih mendominasi meskipun belum memasuki kondisi jenuh jual (oversold).
Apabila tekanan jual berlanjut, harga WTI berpotensi turun menguji level US$70 per barel. Jika level tersebut berhasil ditembus, target penurunan berikutnya berada di sekitar US$67,09, yang merupakan level terendah dalam lima bulan terakhir. Sebaliknya, area US$79,24 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk membuka peluang pemulihan harga minyak.
sumber : fxstreet
