Harga Emas Lanjut Melemah, Imbas Penguatan Dolar dan Naiknya Imbal Hasil Obligasi AS
Harga emas dunia (XAUUSD) melemah pada Jumat, 24 Juli 2026, seiring meningkatnya tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset safe haven setelah ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama kembali menguat. Di sesi perdagangan terbaru, emas diperdagangkan di kisaran US$4.020–4.030 per troy ounce, turun sekitar 0,5%, lanjutkan penurunan sehari sebelumnya.
Faktor utama yang menekan harga emas adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah. Brent kembali menembus level US$100 per barel, memicu spekulasi bahwa tekanan inflasi global akan bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat pasar meningkatkan probabilitas bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang, sehingga imbal hasil obligasi AS naik dan dolar AS menguat. Lingkungan suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Selain faktor suku bunga, penguatan indeks dolar AS juga menjadi katalis negatif bagi emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar, sehingga permintaan fisik maupun investasi cenderung melemah. Arus dana juga terlihat mulai beralih ke aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas.
Meski demikian, pelemahan emas masih tertahan oleh ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya volatilitas pasar energi. Beberapa analis menilai level psikologis US$4.000 masih menjadi area support penting. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya rebound teknikal masih terbuka, meskipun arah jangka pendek tetap dibayangi sentimen hawkish The Fed dan tingginya yield obligasi AS.
Menurut Fawad Razaqzada, Senior Market Analyst di Forex.com, prospek jangka pendek emas masih cenderung bearish selama ekspektasi suku bunga tinggi tetap mendominasi pasar. Ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar menjadi hambatan utama bagi pemulihan harga emas, sementara level US$4.000 akan menjadi area yang sangat penting untuk menentukan apakah tekanan jual akan berlanjut atau justru memicu aksi beli kembali.
sumber : reuters
