Harga Minyak Tertekan karena Aksi Ambil Untung

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak melemah pada 24 Juli 2026 setelah pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul reli tajam yang terjadi pada beberapa hari sebelumnya. WTI diperdagangkan turun 1,33% ke level 91,09 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB. Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih memberikan dukungan terhadap harga minyak secara keseluruhan, investor memilih mengunci keuntungan karena reli dinilai telah membawa harga ke area yang cukup tinggi dalam waktu singkat.

Faktor lain yang menekan WTI adalah penguatan dolar AS, yang membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan global dalam jangka pendek sehingga memicu tekanan jual pada kontrak minyak mentah. Selain itu, pasar juga mulai kembali memperhatikan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih cenderung ketat apabila inflasi belum sepenuhnya terkendali.

Di sisi fundamental, pelaku pasar mulai mengevaluasi keseimbangan antara risiko gangguan pasokan dengan prospek permintaan energi global. Meskipun terdapat ancaman terhadap jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah, sebagian investor menilai bahwa kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir telah mencerminkan sebagian besar risiko tersebut. Akibatnya, sentimen pasar bergeser menjadi lebih berhati-hati dan mendorong aksi jual jangka pendek.

Selain itu, kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara konsumen utama juga membatasi kenaikan harga minyak. Prospek permintaan bahan bakar dipandang belum sepenuhnya kuat apabila aktivitas manufaktur dan konsumsi energi global tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kombinasi antara penguatan dolar, aksi ambil untung, dan kehati-hatian terhadap prospek permintaan menjadi alasan utama mengapa WTI bergerak turun pada perdagangan hari ini.

Menurut Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING, pasar minyak saat ini berada pada fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik maupun perubahan ekspektasi permintaan. Ia menilai bahwa meskipun risiko gangguan pasokan masih tinggi, setiap tanda meredanya ketegangan atau munculnya aksi profit taking dapat memicu koreksi harga dalam jangka pendek. Patterson juga menegaskan bahwa volatilitas minyak diperkirakan tetap tinggi hingga terdapat kepastian mengenai kondisi pasokan global dan arah permintaan energi dunia.


sumber : reuters