Harga Emas Melesat, Sentuh Level Tertinggi Dua Pekan
Harga emas dunia melesat ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Rabu (22/7/2026) waktu setempat, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan aksi beli teknikal. Meski demikian, penguatan emas masih dibayangi prospek suku bunga tinggi The Fed yang berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.
Harga emas spot ditutup melesat 1,27% menjadi $ 4.129,83 per troy ounce setelah sempat menyentuh $ 4.165,85 per troy ounce, level tertinggi sejak 7 Juli 2026.
“Harga emas melonjak menembus $ 4.140 per troy ounce setelah pelemahan dolar AS dan aksi beli saat harga turun kembali memicu optimisme pelaku pasar,” ujar Senior Research Analyst FXTM Lukman Otunuga dikutip dari Reuters.
Namun, ia mengingatkan bahwa faktor fundamental masih cenderung negatif bagi emas. Kenaikan harga minyak lebih dari 3% berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sehingga dapat membatasi ruang kenaikan emas.
Pelemahan indeks dolar AS pada perdagangan Rabu membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri, sehingga meningkatkan permintaan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington masih bersedia bernegosiasi untuk mengakhiri krisis dengan Iran, namun menilai Teheran belum menunjukkan keseriusan dalam pembicaraan.
Konflik yang terus meluas juga memicu gangguan distribusi energi. Empat kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah setelah ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Kondisi tersebut mendorong harga minyak naik ke level tertinggi dalam hampir enam pekan.
Lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi sehingga memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan tetap tinggi lebih lama. Lingkungan suku bunga tinggi umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi kebijakan moneter, jajak pendapat Reuters menunjukkan The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang sisa 2026. Bahkan, pasar memperkirakan akan ada dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir Maret tahun depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini melihat peluang sekitar 76% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Karena itu, perhatian investor kini tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot terkerek 1,57% dan ditutup di $ 59,67 per troy ounce.
sumber : investor.id
