Harga Minyak Naik, Capai Level Tertinggi Enam Pekan
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat pada perdagangan 22 Juli 2026 setelah pasar kembali mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. WTI diperdagangkan di kisaran US$86–88 per barel, naik sekitar 2–4% dibanding hari sebelumnya dan mencapai level tertinggi dalam hampir enam pekan. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset komoditas energi sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik.
Faktor utama yang mendorong kenaikan WTI adalah berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia. Serangan militer yang terus berlangsung memicu risiko gangguan pada jalur pelayaran strategis, termasuk kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, dua jalur penting bagi pengiriman minyak global. Ancaman terhadap kapal tanker membuat biaya logistik dan premi risiko pengiriman meningkat, sehingga pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan minyak dalam waktu dekat.
Selain faktor geopolitik, sentimen bullish juga diperkuat oleh meningkatnya permintaan musiman selama periode musim panas di belahan bumi utara. Konsumsi bahan bakar transportasi yang tetap tinggi membuat investor menilai keseimbangan pasar minyak masih cukup ketat. Di sisi lain, laporan awal industri menunjukkan stok bensin Amerika Serikat mengalami penurunan, yang mengindikasikan permintaan domestik masih solid meskipun persediaan minyak mentah secara keseluruhan mengalami kenaikan tipis.
Kenaikan harga WTI juga dipengaruhi oleh aksi beli spekulatif dari investor institusi yang meningkatkan eksposur pada sektor energi. Ketidakpastian mengenai perkembangan konflik mendorong banyak pelaku pasar mengurangi posisi pada aset berisiko dan mengalihkan sebagian portofolio ke komoditas. Kondisi tersebut membuat volatilitas pasar minyak meningkat, sementara kontrak berjangka WTI terus memperoleh dukungan dari ekspektasi bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Menurut Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, pasar minyak saat ini lebih banyak digerakkan oleh risk premium geopolitik dibanding perubahan fundamental permintaan dan penawaran jangka pendek. Hansen menilai bahwa selama ancaman terhadap jalur distribusi energi utama di Timur Tengah belum mereda, investor akan tetap memberikan premi risiko pada harga minyak, sehingga WTI berpotensi mempertahankan tren penguatan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Pandangan tersebut sejalan dengan kekhawatiran pasar bahwa setiap eskalasi baru dapat memicu lonjakan harga minyak yang lebih besar.
sumber : reuters
