Harga Emas Jatuh, Tembus Level Psikologis $ 4.000 per Troy Ounce
Harga emas dunia jatuh hingga 2% dan kembali menembus ke bawah level psikologis US$ 4.000 per troy ounce pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Pelemahan tersebut menyeret logam mulia ke posisi terendah dalam dua pekan.
Dikutip dari Reuters, pelemahan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Harga emas spot ditutup ambles 2,06% menjadi $ 3.976,35 per troy ounce, setelah sempat merosot 2% dan menyentuh level terendah sejak 1 Juli 2026.
Tekanan terhadap emas muncul setelah harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Pasar mencermati meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah setelah Iran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah jika ASmenyerang infrastruktur energi Iran.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan imbal hasil.
“Kenaikan harga minyak membuat ekspektasi imbal hasil obligasi AS terus meningkat. Pasar bahkan mulai melihat peluang kenaikan suku bunga paling cepat pada September, dan itu menjadi tekanan bagi harga emas,” ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 53% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bergerak naik, sementara indeks dolar AS menguat 0,2%. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan turut melemah.
Pekan ini, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, meski belum memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan inflasi konsumen pada Juni melambat, disusul penurunan indeks harga produsen (PPI). Namun, tingginya harga energi diperkirakan akan menyulitkan The Fed untuk segera mengubah kebijakan moneternya menjadi lebih longgar.
“Walaupun beberapa data ekonomi mulai melunak, harga energi yang tetap tinggi membuat The Fed sulit bersikap lebih dovish. Dalam kondisi seperti ini, investor lebih memilih dolar AS dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil,” kata analis Forex.com, Fawad Razaqzada.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot ambrol 3,9% dan ditutup di $ 55,52 per troy ounce.
sumber : investor.id
