Harga Emas Menguat, Setelah Data Inflasi Produsen AS Turun

Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) waktu setempat, setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan tak terduga. Namun, kenaikan harga emas masih tertahan karena pasar tetap mewaspadai risiko inflasi dan potensi suku bunga tinggi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Harga emas spot ditutup menguat sebesar 0,18% ke level $ 4.060,28 per troy ounce, setelah di awal perdagangan sempat merosot hampir 1%.

Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan, pelemahan harga emas berhasil berkurang setelah data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS lebih rendah dari perkiraan.

“Data PPI yang lebih lemah dari ekspektasi meredakan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini,” ujar Streible dikutip dari Reuters.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan PPI untuk permintaan akhir turun 0,3% pada Juni, berbalik dari kenaikan 0,6% pada Mei yang telah direvisi turun. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni.

Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen (CPI) AS juga menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2%, dari 16,6% sebelum data PPI dirilis.

Meski demikian, sentimen geopolitik masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan emas. AS mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di pelabuhan negara tersebut.

Sebagai respons, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan, sehingga mendorong harga minyak kembali naik.

Senior Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menilai, meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.

Menurut dia, apabila konflik terus meningkat hingga mendorong harga minyak lebih tinggi, tekanan inflasi global bisa bertahan lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Dari sisi teknikal, Otunuga memperkirakan apabila harga emas menembus ke bawah level $ 4.000 per troy ounce, maka harga berpotensi turun menuju $ 3.950 per troy ounce hingga $ 3.900 per troy ounce.

“Sebaliknya, jika level $ 4.000 per troy ounce mampu bertahan sebagai area support, harga emas berpeluang kembali menguat ke kisaran $ 4.100 per troy ounce,” papar Otunuga

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,59% dan ditutup di $ 57,73 per troy ounce.


sumber : investor.id