Harga Emas Melonjak, Setelah Data Inflasi AS yang Lebih Rendah
Harga emas dunia melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (14/7/2026) waktu setempat, setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan. Hal itu memicu harapan bahwa The Fed akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Harga emas spot ditutup melonjak 1,3% menjadi $ 4.052,68 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli 2026 pada awal perdagangan.
Dikutip dari Reuters, penguatan harga emas juga didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,6%, yang membuat logam mulia tersebut menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga meningkatkan permintaan.
“Harga Emas melesat setelah laporan inflasi konsumen (CPI) yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Inflasi inti juga tidak berubah dibanding bulan sebelumnya, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Juli maupun September diperkirakan turun tajam,” kata analis logam independen Tai Wong.
Data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 3,5% secara tahunan, lebih rendah dibanding kenaikan 4,2% pada Mei. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) tercatat stagnan setelah pada Mei meningkat 0,2%.
Merespons data tersebut, pelaku pasar langsung mengurangi taruhan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan moneter pada 28-29 Juli mendatang.
Fokus investor kini beralih pada rilis data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu (16/7/2026). Data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk tambahan mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh dalam kesaksiannya di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS kembali menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral adalah mengembalikan inflasi ke target 2%.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania. Sebagai balasan, ASmenggempur sejumlah target Iran selama hampir lima jam dalam konflik yang berkaitan dengan perebutan kendali Selat Hormuz.
Memanasnya konflik tersebut turut mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat pekan.
Menurut Tai Wong, eskalasi konflik dapat kembali mendorong inflasi akibat kenaikan harga energi. Kondisi tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
“Jika ketegangan dengan Iran terus berlanjut, inflasi berpotensi meningkat lagi bulan ini. Reli emas kemungkinan terbatas hingga kisaran $ 4.200 per troy ounce dalam beberapa sesi ke depan,” ujarnya.
Selain emas, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot melesat 1,82% dan ditutup di $ 58,67 per troy ounce.
sumber : investor.id
