DXY Turun, Ekspektasi The Fed Tekan Dolar AS
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak melemah pada perdagangan 10 Juli 2026 setelah pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul reli dolar dalam beberapa hari sebelumnya. DXY diperdagangkan turun 0,18% ke level 100,53 saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Pelemahan ini juga dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap mempertahankan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap kebijakan suku bunga, meskipun inflasi masih menjadi perhatian. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral yang menegaskan kebijakan akan tetap bergantung pada data ekonomi membuat investor enggan menambah posisi beli terhadap dolar AS.
Sentimen negatif terhadap DXY juga berasal dari membaiknya minat investor terhadap aset berisiko (risk-on sentiment). Meredanya kekhawatiran terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turut menekan daya tarik dolar karena selisih imbal hasil terhadap mata uang utama lainnya menjadi lebih sempit.
Selain itu, pasar masih mencerna isi risalah rapat FOMC yang menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih terpecah mengenai prospek suku bunga ke depan. Meskipun terdapat kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih dipengaruhi kenaikan harga energi dan dampak tarif impor, mayoritas investor menilai The Fed belum memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar cenderung berkurang.
Dari sisi mata uang pesaing, penguatan euro dan poundsterling turut memberikan tekanan pada DXY. Optimisme terhadap prospek kebijakan moneter di kawasan Eropa dan Inggris mendorong investor melakukan rotasi aset ke mata uang tersebut. Mengingat euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan DXY, setiap penguatan euro secara langsung memberikan tekanan terhadap indeks dolar.
Secara keseluruhan, pelemahan DXY pada hari ini lebih dipengaruhi kombinasi faktor fundamental berupa penurunan permintaan safe haven, turunnya imbal hasil obligasi AS, serta meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap mengedepankan pendekatan berbasis data sebelum mengambil keputusan mengenai arah suku bunga berikutnya. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS dan indikator ekonomi lainnya yang berpotensi mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut John Williams, kebijakan moneter saat ini masih harus tetap fleksibel karena prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi masih dipenuhi ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa Federal Reserve akan terus mengandalkan data ekonomi yang masuk sebelum menentukan langkah suku bunga berikutnya. Pernyataan tersebut dipandang pasar sebagai sinyal bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk kembali memperketat kebijakan, sehingga memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks Dolar AS.
sumber : reuters
