Optimisme The Fed dan Permintaan Safe Haven Kembali Dorong Dolar AS
Indeks Dolar AS (DXY) mengawali perdagangan pada Senin, 6 Juli 2026 dengan penguatan terbatas, setelah pada akhir pekan lalu mendapat dukungan dari kombinasi sentimen pasar yang lebih berhati-hati serta ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat. DXY diperdagangkan naik 0,19% ke level 100,79 saat berita ini ditulis Pukul 13.30 WIB. Data pasar menunjukkan DXY mencatat kenaikan harian dibanding penutupan sebelumnya meskipun volatilitas tetap tinggi pasca rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.
Faktor utama yang menopang penguatan dolar adalah masih kuatnya keyakinan sebagian pelaku pasar bahwa inflasi AS belum sepenuhnya kembali ke target 2%, sehingga ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi masih terbuka. Meskipun data Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Juni menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lemah dari ekspektasi, sejumlah pejabat Federal Reserve sebelumnya tetap menegaskan bahwa keputusan kebijakan akan bergantung pada perkembangan data inflasi dan pasar tenaga kerja secara keseluruhan. Sikap tersebut membuat investor belum sepenuhnya menghapus kemungkinan kebijakan yang lebih hawkish dalam beberapa bulan mendatang.
Selain faktor kebijakan moneter, permintaan terhadap aset safe haven juga memberikan dukungan bagi dolar AS. Di tengah masih adanya ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi global, perlambatan di beberapa negara maju, serta perhatian investor terhadap risalah rapat FOMC yang akan dirilis pekan ini, arus dana kembali mengalir ke aset berdenominasi dolar. Sentimen tersebut membantu menjaga daya tarik USD meskipun imbal hasil obligasi AS bergerak lebih terbatas.
Di sisi lain, pelemahan beberapa mata uang utama turut memberikan dorongan tambahan terhadap DXY. Yen Jepang masih berada di dekat level terlemahnya dalam beberapa dekade, sementara investor juga terus memantau prospek ekonomi kawasan Eropa yang belum menunjukkan percepatan signifikan. Karena euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan DXY, setiap pelemahan euro maupun mata uang utama lainnya cenderung memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan indeks dolar.
Menurut Analis Senior Global Market J.P. Morgan, prospek dolar AS pada paruh kedua 2026 masih relatif konstruktif. Tim riset tersebut menilai kombinasi kebijakan Federal Reserve yang cenderung hawkish, ketahanan ekonomi AS dibanding negara maju lainnya, serta masih tingginya imbal hasil aset berbasis dolar berpotensi menjaga kekuatan USD dalam jangka menengah. Namun demikian, mereka mengingatkan bahwa setiap data inflasi dan ketenagakerjaan berikutnya akan menjadi penentu utama arah pergerakan DXY ke depan.
sumber : reuters
