Harga Minyak Tertekan di Awal Juli, Imbas Normalisasi Pasokan Timur Tengah
Harga Minyak Mentah WTI diperdagangkan melemah pada Rabu, 1 Juli 2026, dengan harga bergerak di kisaran US$69 per barel, mendekati level terendah dalam beberapa pekan terakhir. Pelemahan ini terutama dipicu oleh berkurangnya premi risiko geopolitik setelah arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali berangsur normal. Pelaku pasar menilai ancaman gangguan pasokan yang sempat mengangkat harga minyak pada Juni mulai mereda, sehingga mendorong aksi jual di pasar energi.
Faktor lain yang membebani harga adalah revisi turun proyeksi harga minyak global oleh para analis internasional. Dalam survei terbaru, mayoritas analis menurunkan perkiraan harga minyak tahun 2026 untuk pertama kalinya sejak konflik Iran memanas. Penurunan tersebut didorong oleh keyakinan bahwa pasokan global akan kembali stabil seiring pulihnya aktivitas ekspor di kawasan Teluk Persia, sementara pertumbuhan permintaan minyak dunia diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya.
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh prospek ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Investor khawatir bahwa suku bunga tinggi di berbagai negara maju akan terus membatasi aktivitas industri dan konsumsi energi. Di sisi lain, beberapa lembaga energi internasional juga telah memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun 2026, sehingga memperkuat pandangan bahwa pasar berpotensi kembali mengalami surplus pasokan apabila produksi tetap tinggi.
Meski demikian, pelemahan harga WTI masih tertahan oleh penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang menunjukkan permintaan domestik kilang tetap solid. Data industri terbaru memperlihatkan stok minyak mentah AS mengalami penurunan lebih dari 6 juta barel dalam sepekan. Namun, data tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi sentimen negatif dari normalisasi pasokan global dan ekspektasi permintaan yang melemah.
Di sisi geopolitik, pasar tetap memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun pembicaraan belum menghasilkan kesepakatan yang jelas, investor melihat peluang penyelesaian diplomatik masih terbuka sehingga risiko gangguan pasokan tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat investor lebih memilih mengurangi posisi beli pada minyak mentah dan melakukan profit taking setelah lonjakan harga yang terjadi pada pertengahan Juni.
Menurut Amrita Sen, Co-Founder sekaligus Director of Research di Energy Aspects, penurunan harga minyak saat ini lebih disebabkan oleh perubahan persepsi risiko dibandingkan perubahan fundamental pasokan yang drastis. Ia menjelaskan bahwa pasar kini mulai menghapus premi risiko geopolitik setelah jalur distribusi energi kembali beroperasi, meskipun ketidakpastian di Timur Tengah masih berpotensi memicu volatilitas sewaktu-waktu. Amrita Sen juga mengingatkan bahwa investor perlu tetap mewaspadai perkembangan negosiasi AS–Iran karena setiap perubahan signifikan dapat kembali mengubah arah harga minyak dalam jangka pendek.
sumber : reuters
