Yen Terpuruk ke Level Terlemah 40 Tahun, Ancaman Intervensi Kembali Membayangi
Pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, mata uang Yen Jepang (JPY) kembali berada di bawah tekanan kuat dan diperdagangkan mendekati level terlemahnya dalam hampir 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat. USDJPY sempat menyentuh level tertinggi di 162,397. Pelemahan yen dipicu oleh masih lebarnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang, di mana pasar memperkirakan Federal Reserve akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, sementara Bank of Japan (BoJ) masih bergerak lebih hati-hati dalam proses normalisasi kebijakan moneternya. Kondisi ini terus mendorong investor mengalihkan dana ke aset berimbal hasil lebih tinggi di luar Jepang.
Tekanan terhadap yen juga diperburuk oleh maraknya aktivitas carry trade, yaitu strategi meminjam yen dengan biaya bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain. Meskipun BoJ telah menaikkan suku bunga dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tingkat suku bunga Jepang masih jauh di bawah Amerika Serikat. Akibatnya, permintaan terhadap yen tetap lemah dan arus modal keluar dari Jepang masih menjadi faktor dominan yang membebani nilai tukar mata uang tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Jepang kembali menegaskan kesiapannya untuk mengambil langkah yang diperlukan apabila pergerakan nilai tukar dianggap berlebihan atau bersifat spekulatif. Pernyataan dari Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan bahwa otoritas terus memantau pasar valuta asing secara ketat. Namun, pelaku pasar menilai bahwa intervensi verbal maupun intervensi langsung kemungkinan hanya memberikan efek jangka pendek apabila tidak disertai perubahan fundamental, terutama terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Fokus investor kini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, khususnya data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan menjadi acuan bagi langkah Federal Reserve berikutnya. Apabila data tersebut kembali menunjukkan ekonomi AS yang solid, ekspektasi suku bunga tinggi akan semakin menguat sehingga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap yen. Sebaliknya, data yang lebih lemah dari perkiraan dapat membuka peluang bagi yen untuk mengalami pemulihan teknikal setelah mengalami pelemahan berkepanjangan.
Secara keseluruhan, prospek fundamental yen pada hari ini masih cenderung negatif. Perbedaan suku bunga yang lebar, kuatnya dolar AS, serta tingginya aktivitas carry trade menjadi faktor utama yang menekan mata uang Jepang. Meskipun ancaman intervensi dari pemerintah Jepang terus meningkat, arah pergerakan yen dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan Federal Reserve dan dinamika imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Menurut Francesco Pesole, Senior FX Strategist di ING, yen masih berada dalam tekanan karena perbedaan kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang belum menunjukkan perubahan yang berarti. Ia menilai bahwa risiko intervensi pemerintah Jepang memang semakin tinggi seiring pelemahan yen ke level terendah dalam beberapa dekade. Namun, tanpa perubahan arah kebijakan Federal Reserve atau penurunan signifikan imbal hasil obligasi AS, setiap penguatan yen akibat intervensi kemungkinan hanya akan bersifat sementara.
sumber : reuters
