Harga Minyak Mentah Menguat di Tengah Kembalinya Risiko Geopolitik Timur Tengah
Harga Minyak Mentah WTI menguat pada Senin, 29 Juni 2026, didorong oleh meningkatnya kembali premi risiko geopolitik setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran selama akhir pekan. WTI diperdagangkan naik 0.88% ke level $ 70,04 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.30 WIB. Pelaku pasar kembali mengkhawatirkan potensi gangguan terhadap distribusi minyak global, khususnya melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan posisi beli pada kontrak minyak mentah sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terganggunya pasokan global.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga WTI juga dipengaruhi oleh laporan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali melambat akibat meningkatnya ancaman keamanan terhadap kapal tanker. Serangan terhadap kapal yang beroperasi di kawasan Teluk Persia meningkatkan kekhawatiran bahwa proses normalisasi distribusi minyak akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Meskipun beberapa fasilitas ekspor mulai kembali beroperasi, pasar masih menilai risiko terhadap rantai pasok energi tetap tinggi sehingga memberikan dukungan bagi harga minyak.
Di sisi lain, sentimen positif terhadap minyak juga muncul karena para pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan terbatasnya pasokan dalam jangka pendek. Walaupun terdapat upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, investor belum sepenuhnya yakin bahwa situasi keamanan di kawasan akan segera stabil. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, premi risiko diperkirakan tetap melekat pada harga minyak, sehingga menopang penguatan WTI meskipun fundamental permintaan global belum sepenuhnya pulih.
Namun demikian, kenaikan harga minyak masih berpotensi dibatasi oleh prospek fundamental jangka menengah yang relatif lebih lemah. Sejumlah lembaga energi masih memperkirakan produksi global akan tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan permintaan sepanjang 2026. Prospek peningkatan produksi dari negara-negara produsen utama serta potensi bertambahnya pasokan apabila situasi geopolitik mereda dapat menjadi faktor yang membatasi reli harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut analis senior ANZ Research, pasar minyak saat ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. ANZ menilai bahwa meskipun terdapat upaya gencatan senjata dan pembicaraan diplomatik, proses pemulihan pasokan kemungkinan tidak akan berlangsung cepat karena masih terdapat antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, serta gangguan produksi di beberapa wilayah. Oleh karena itu, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama risiko geopolitik belum benar-benar mereda. Pandangan tersebut turut memperkuat sentimen bullish yang mendorong WTI menguat pada perdagangan hari ini.
sumber : reuters
