Harga Emas Rebound, Didorong Pelemahan Dolar dan Meningkatnya Permintaan Safe Haven

Harga Emas (XAUUSD) rebound pada Jumat, 26 Juni 2026, didorong oleh aksi beli setelah tekanan jual yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya. XAUUSD diperdagangkan naik 0,11% ke level $ 4.030,55 per troy ounce saat berita ini ditulis Pukul 14.05 WIB. Kenaikan ini terjadi seiring pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar, sehingga permintaan fisik maupun investasi cenderung meningkat.

Selain faktor nilai tukar, pasar juga melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang relatif sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran bahwa bank sentral AS akan segera mempercepat kenaikan suku bunga. Penurunan ekspektasi pengetatan moneter tersebut menekan yield Treasury AS, yang pada akhirnya memberikan ruang bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi sebagai aset lindung nilai.

Sentimen positif juga datang dari meningkatnya minat investor untuk kembali melakukan akumulasi emas setelah harga sempat terkoreksi tajam dalam beberapa pekan terakhir. Banyak pelaku pasar menilai bahwa penurunan sebelumnya telah membawa harga emas ke area yang lebih menarik untuk pembelian jangka menengah, terlebih ketidakpastian ekonomi global dan risiko geopolitik masih belum sepenuhnya hilang. Aksi bargain hunting tersebut turut menopang penguatan XAUUSD di perdagangan hari ini.

Di sisi lain, investor tetap mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed pada paruh kedua tahun 2026. Selama data ekonomi tidak menunjukkan percepatan inflasi yang signifikan, pasar memperkirakan tekanan terhadap emas akan relatif terbatas. Dengan demikian, setiap pelemahan dolar dan penurunan yield masih berpotensi menjadi katalis positif bagi logam mulia dalam jangka pendek.

Menurut Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, tren jangka panjang emas masih didukung oleh permintaan bank sentral dunia, diversifikasi cadangan devisa, serta tingginya ketidakpastian ekonomi global. Hansen menilai bahwa meskipun volatilitas jangka pendek masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve, setiap penurunan harga berpotensi dimanfaatkan investor sebagai peluang akumulasi karena fundamental jangka panjang emas tetap konstruktif. Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi sejumlah institusi keuangan global yang masih mempertahankan outlook positif terhadap emas dalam jangka panjang.


sumber : reuters