Harga Emas Balik Arah, Setelah Rilis Data Inflasi AS

Harga emas dunia berbalik naik pada perdagangan Kamis (25/6/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dirilis sesuai ekspektasi pasar memicu pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Kondisi tersebut kembali meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset safe haven.

Harga emas ditutup naik 0,69% menjadi $ 4.026,55 per troy ounce. Padahal, pada awal sesi perdagangan, emas sempat merosot sekitar 1%.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, pasar merespons positif data inflasi AS pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang menunjukkan hasil sesuai perkiraan analis.

“Data PCE sebagian besar sesuai ekspektasi. Itu menjadi salah satu alasan mengapa harga emas mampu bertahan dan kembali menguat pada hari ini,” ujar Meger dikutip dari Reuters.

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks harga PCE naik 4,1% secara tahunan pada Mei. Angka tersebut merupakan kenaikan terbesar sekaligus pertama kalinya inflasi PCE kembali berada di atas level 4% sejak April 2023. Hasil itu juga sejalan dengan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters.

Usai data dirilis, indeks dolar AS yang sebelumnya menguat berbalik melemah. Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga mendorong permintaan. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS juga bergerak turun, memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar emas.

Pelaku pasar kini juga sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas bank sentral AS menaikkan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 80%, dibandingkan 85% sebelum data inflasi dirilis.

Sepekan sebelumnya, setelah pertemuan kebijakan The Fed, peluang kenaikan suku bunga sempat berada di kisaran 61%.

Meski demikian, Meger menilai arah pergerakan emas ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS. “Fokus utama pasar tetap pada tekanan inflasi ke depan. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa harga emas sempat melemah dalam beberapa sesi terakhir,” katanya.

Pada perdagangan Rabu (25/6/2026), harga emas bahkan sempat jatuh di bawah level psikologis $ 4.000 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak November 2025. Penurunan itu dipicu meningkatnya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi setelah The Fed menyampaikan sinyal kebijakan yang cenderung hawkish dalam pertemuan pekan lalu.

Meskipun dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, emas umumnya kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,7% dan ditutup di $ 57,82 per troy ounce.

Sementara itu, harga minyak dunia bergerak naik tipis. Namun, prospek bertambahnya pasokan dari Timur Tengah setelah tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran membuat harga minyak masih bertahan di sekitar level sebelum konflik pecah.


sumber : investor.id