Indeks Dolar Melonjak Jelang Data Core PCE AS, Harapan The Fed Tetap Hawkish
Indeks Dolar AS (DXY) menguat pada Kamis, 25 Juni 2026, didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya. DXY diperdagangkan naik 0,03% ke level 101,4 saat berita ini ditulis Pukul 14.20 WIB. Sentimen tersebut muncul setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan nada yang lebih hawkish dan menegaskan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama. Akibatnya, pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun 2026.
Faktor utama lainnya yang menopang penguatan DXY adalah antisipasi investor terhadap rilis data inflasi Core PCE (Personal Consumption Expenditures) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada hari yang sama. Core PCE merupakan indikator inflasi favorit The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti masih berada pada level yang relatif tinggi, sehingga berpotensi memperkuat argumen bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan dukungan terhadap mata uang dolar. Yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun bergerak lebih tinggi menjelang rilis data ekonomi penting, mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat masih akan berlanjut. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dibandingkan mata uang utama lainnya seperti euro, yen, dan poundsterling.
Dari sisi fundamental ekonomi, data ekonomi AS yang masih relatif solid juga menjadi alasan investor tetap mempertahankan posisi beli terhadap dolar AS. Ketahanan pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta prospek revisi GDP kuartal pertama yang tetap positif membuat pasar menilai ekonomi AS masih cukup kuat untuk menghadapi suku bunga tinggi. Kondisi ini kontras dengan beberapa ekonomi utama lainnya yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Di pasar global, penguatan dolar juga didorong oleh aliran dana menuju aset safe haven. Meskipun ketegangan geopolitik Timur Tengah mulai mereda, investor masih cenderung mempertahankan eksposur terhadap dolar karena ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan volatilitas pasar saham teknologi. Permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai membantu mendorong DXY mendekati level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Menurut analis senior pasar global dari ING, Chris Turner, penguatan dolar saat ini didorong oleh kombinasi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan perbedaan prospek kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya. Turner menilai bahwa selama data inflasi AS tetap tinggi dan ekonomi masih menunjukkan ketahanan, dolar berpotensi mempertahankan tren bullish dalam jangka pendek hingga menengah.
Selama data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat, DXY berpeluang mempertahankan bias bullish dan melanjutkan penguatannya menuju area tertinggi baru dalam beberapa bulan ke depan.
sumber : reuters
