Harga Minyak Melemah karena Kembalinya Pasokan Minyak dari Timur Tengah

Harga Minyak Mentah WTI melemah pada Kamis, 25 Juni 2026, setelah pasar energi global mengalami perubahan sentimen yang sangat cepat. WTI diperdagangkan turun 0,5% ke level $ 69,49 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Setelah sempat melonjak akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, para pelaku pasar kini mulai menghapus premi risiko geopolitik karena arus pengiriman minyak kembali normal lebih cepat dari perkiraan.

Faktor utama pelemahan WTI adalah kembalinya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kesepakatan awal antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membuka kembali jalur pelayaran utama melalui Selat Hormuz, sehingga kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan global mulai mereda. Data terbaru menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak berhasil melewati jalur tersebut dalam 24 jam terakhir, memperkuat keyakinan investor bahwa risiko kekurangan pasokan sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.

Selain itu, pasar juga dibebani oleh ekspektasi peningkatan produksi dari kelompok OPEC+. Tujuh negara anggota OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia telah menyepakati tambahan produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai Juli 2026. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa produsen utama dunia mulai mengembalikan pasokan yang sebelumnya dipangkas selama periode ketidakpastian geopolitik. Bertambahnya pasokan di tengah meredanya risiko konflik menjadi faktor bearish bagi harga minyak.

Di sisi permintaan, investor masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi global yang belum sepenuhnya solid. Sejumlah indikator menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi di beberapa kawasan utama, sementara konsumsi energi dari China belum kembali ke level yang diharapkan pasar. Berkurangnya impor minyak China dalam beberapa bulan terakhir turut menekan ekspektasi permintaan global, sehingga pasar lebih fokus pada potensi surplus pasokan dibandingkan risiko kekurangan minyak.

Tekanan terhadap harga WTI juga terjadi meskipun data persediaan minyak mentah Amerika Serikat menunjukkan penurunan yang signifikan. Dalam kondisi normal, penurunan stok minyak biasanya mendukung kenaikan harga. Namun kali ini pasar lebih memperhatikan perkembangan geopolitik dan prospek pasokan global yang membaik. Dengan kata lain, sentimen pasokan dari Timur Tengah dan OPEC+ berhasil mengalahkan sentimen bullish dari penurunan inventori minyak AS.

Menurut analis senior dari Goldman Sachs, normalisasi arus pasokan melalui Selat Hormuz dan meredanya ketegangan geopolitik berpotensi terus mengurangi premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak. Sementara itu, analis dari MUFG Research menilai bahwa apabila stabilitas pasokan tetap terjaga dan produksi OPEC+ terus meningkat, harga minyak berpeluang bergerak lebih rendah pada paruh kedua tahun 2026 dibandingkan level puncaknya saat konflik berlangsung.

Selama tidak terjadi eskalasi baru di Timur Tengah dan pasokan global terus meningkat, bias pergerakan WTI dalam jangka pendek masih cenderung bearish hingga netral, dengan pasar akan lebih fokus pada keseimbangan antara pasokan OPEC+ dan prospek permintaan energi global.


sumber : reuters