Dolar Melonjak ke Puncak 13 Bulan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Pemicunya
Indeks Dolar AS (DXY) menguat pada 24 Juni 2026 dan berhasil mencapai level tertinggi dalam sekitar 13 bulan terakhir. DXY diperdagangkan naik 0,17% ke level 101,33 saat berita ini ditulis Pukul 14.40 WIB. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa bulan mendatang. Data ekonomi AS yang tetap solid serta komentar sejumlah pejabat The Fed yang bernada hawkish membuat investor kembali meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar AS.
Selain faktor kebijakan moneter, sentimen risk-off di pasar global turut memperkuat posisi dolar. Gelombang aksi jual pada saham-saham teknologi dunia memicu perpindahan dana investor ke aset yang dianggap lebih aman. Dalam kondisi ketidakpastian pasar yang meningkat, dolar AS kembali menjadi salah satu instrumen safe haven utama sehingga permintaannya melonjak. Reuters melaporkan bahwa DXY sempat menyentuh area 101,35, level tertinggi sejak Mei 2025.
Penguatan dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury Yield). Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang, dengan probabilitas kenaikan suku bunga untuk September meningkat tajam dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan yield membuat aset dolar menjadi lebih menarik dibandingkan mata uang utama lainnya seperti euro, pound sterling, maupun yen Jepang.
Di sisi lain, mata uang pesaing dolar mengalami tekanan. Euro turun mendekati level terendah dalam satu tahun setelah pasar menilai sikap bank sentral Eropa (ECB) masih relatif lebih dovish dibandingkan The Fed. Pound sterling juga melemah setelah muncul pandangan dari pejabat Bank of England yang mendukung kebijakan suku bunga tetap dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut semakin memperlebar diferensial suku bunga yang menguntungkan dolar AS.
Faktor geopolitik turut memberikan dukungan tambahan bagi dolar. Meskipun ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, investor masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap prospek ekonomi global. Ketidakpastian tersebut mendorong permintaan terhadap aset likuid dan aman seperti dolar AS, sehingga menopang kenaikan DXY sepanjang sesi.
Menurut analis senior pasar dari Goldman Sachs, penguatan dolar saat ini terutama dipicu oleh kombinasi ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang masih berada di atas negara-negara maju lainnya. Analis menilai selama data inflasi dan pasar tenaga kerja AS tetap kuat, DXY berpotensi bertahan di atas level psikologis 101 dan bahkan membuka peluang menuju area 102–105 dalam beberapa bulan ke depan.
Secara keseluruhan, Penguatan DXY pada hari ini didorong oleh tiga faktor utama, yaitu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan meningkatnya permintaan safe haven akibat sentimen risk-off global. Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadikan dolar AS sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di antara mata uang utama dunia pada perdagangan hari ini.
sumber : reuters
