Harga Minyak Tertekan Tajam, Imbas Redanya Ketegangan Timur Tengah

Harga Minyak Mentah WTI (West Texas Intermediate) melemah pada Selasa, 23 Juni 2026, setelah pasar energi global mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang reli harga minyak selama beberapa bulan terakhir. WTI diperdagangkan turun 1,5% ke level $ 72,92 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB. WTI sempat bergerak di bawah area USD 74 per barel, bahkan menyentuh level terendah sejak awal Maret 2026, seiring meningkatnya optimisme terhadap perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Faktor utama yang menekan harga minyak adalah membaiknya prospek pasokan global. Pemerintah AS dilaporkan memberikan lisensi sementara yang memungkinkan Iran kembali menjual minyak ke pasar internasional selama proses negosiasi berlangsung. Langkah tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa pasokan minyak dunia akan bertambah dalam beberapa pekan mendatang. Selain itu, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan, mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.

Sentimen bearish juga diperkuat oleh perkembangan diplomatik yang menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai AS-Iran. Investor menilai peluang terjadinya gangguan besar terhadap pasokan minyak kini semakin kecil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Harapan tercapainya kesepakatan yang lebih permanen membuat pelaku pasar melepas posisi beli spekulatif yang sebelumnya dibangun untuk mengantisipasi eskalasi konflik.

Dari sisi fundamental permintaan, pasar juga mencermati perlambatan konsumsi minyak di Asia, khususnya dari China. Beberapa laporan menunjukkan impor minyak mentah China masih berada di bawah rata-rata tahun sebelumnya, sehingga mengurangi kekhawatiran terjadinya kekurangan pasokan global. Kondisi ini membuat tambahan pasokan dari Iran dan produsen lainnya berpotensi menciptakan pasar yang lebih seimbang, bahkan cenderung surplus dalam jangka pendek.

Selain itu, meredanya ketegangan di Timur Tengah telah mengurangi risiko penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu faktor pendukung kenaikan harga minyak. Sebelumnya, pasar khawatir jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia tersebut dapat terganggu akibat konflik regional. Namun, dengan berjalannya proses diplomasi dan pulihnya arus pengiriman energi, premi risiko yang melekat pada harga minyak secara bertahap mulai menghilang.

Menurut analis senior FOREX.com, Fawad Razaqzada, pelemahan tajam yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir membuat pasar minyak memasuki fase koreksi setelah sebelumnya mengalami lonjakan akibat ketegangan geopolitik. Ia menilai bahwa indikator teknikal masih menunjukkan momentum bearish yang cukup kuat, meskipun peluang terjadinya rebound teknikal jangka pendek tetap terbuka apabila harga mampu bertahan di atas area support utama.

Secara keseluruhan, pelemahan harga Minyak Mentah WTI lebih banyak dipicu oleh berkurangnya risiko geopolitik, meningkatnya harapan terhadap tambahan pasokan minyak Iran, normalisasi lalu lintas energi melalui Selat Hormuz, serta kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan global. Selama pasar terus melihat adanya kemajuan diplomatik di Timur Tengah, tekanan terhadap harga minyak berpotensi tetap berlanjut dalam jangka pendek, meskipun volatilitas masih tinggi karena perkembangan geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu.


sumber : reuters