Harga Emas Jatuh, Catatkan Penurunan Mingguan Ketiga Berturut-turut
Harga emas dunia kembali jatuh pada perdagangan Jumat (19/6/2026) dan mencatat penurunan mingguan untuk tiga pekan berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia semakin besar setelah The Fed mempertahankan sikap hawkish dan dolar Amerika Serikat (AS) menguat.
Dikutip dari Reuters, di saat yang sama, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga emas akhir 2026, menambah sentimen negatif di pasar.
Harga emas spot ditutup anjlok 1,48% di $ 4.146,89 per troy ounce. Sepanjang hari perdagangan, emas bahkan sempat menyentuh level $ 4.121,73 per troy ounce, yang merupakan posisi terendah sejak 11 Juni 2026.
Pelemahan emas terjadi seiring penguatan dolar AS yang menuju kenaikan mingguan. Kondisi tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Analis Senior Pasar Tradu.com Nikos Tzabouras mengatakan emas masih menghadapi risiko penurunan lebih lanjut di tengah ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di AS. Menurut dia, emas berpotensi masuk lebih dalam ke wilayah bearish dan bahkan turun di bawah level psikologis $ 4.000 per troy ounce apabila tekanan dari kebijakan moneter AS terus berlanjut.
“Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama menjadi sentimen negatif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, sekaligus mendukung penguatan dolar AS,” ujar Tzabouras.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan pekan ini. Meski tidak menaikkan suku bunga, proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat bank sentral AS masih memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Di tengah tekanan tersebut, Goldman Sachs memangkas target harga emas menjadi $ 4.900 per troy ounce pada akhir tahun dari sebelumnya $ 5.400 per troy ounce. Revisi ini mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap prospek jangka pendek logam mulia.
Meski demikian, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang. Bank investasi tersebut menilai masih terdapat potensi kenaikan harga dalam jangka menengah, meskipun risiko koreksi dalam waktu dekat masih cukup besar.
Selain faktor suku bunga, pasar juga terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian meningkat setelah Swiss menyatakan perundingan antara AS dan Iran terkait upaya mengakhiri konflik kawasan tidak jadi dilaksanakan pada Jumat.
Di sisi lain, seorang pejabat senior AS mengungkapkan, Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat. Kesepakatan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang selama ini menjadi salah satu faktor pendukung harga emas.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga bergerak di zona merah. Harga perak spot jatuh 1,95% dan ditutup di $ 64,41 per troy ounce.
sumber : investor.id
