Indeks Dolar AS Menguat, Sentuh Level Tertinggi 52 Minggu
Pada perdagangan hari ini, Jumat 19 Juni 2026, Indeks Dolar AS (DXY) mencatatkan penguatan yang sangat signifikan dengan menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir. DXY diperdagangkan di kisaran level 100,71, naik sekitar 0.14% dari hari perdagangan sebelumnya saat berita ini ditulis Pukul 14.30 WIB. Lonjakan ini menandai reli berkelanjutan yang telah membawa indeks dolar AS menjauhi level support di bawah 100 yang sempat diuji pada awal bulan Juni 2026.
Salah satu katalis utama yang mendorong permintaan safe-haven terhadap dolar AS adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Optimisme pasar terhadap kesepakatan damai yang sempat menekan DXY ke level 98.95 pada akhir Mei 2026 lalu langsung pupus setelah laporan mengenai serangan militer di dekat Bandar Abbas. Ketidakpastian global ini memicu arus modal yang deras masuk ke aset safe-haven, membuat dolar AS sangat diminati di tengah meningkatnya risiko perang.
Selain faktor geopolitik, fundamental ekonomi domestik AS juga memberikan dukungan kuat bagi penguatan dolar melalui kebijakan moneter The Fed yang hawkish. Data inflasi AS yang masih membandel dengan tingkat CPI di angka 3.8% menjadi tekanan tersendiri bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneternya. Hal ini tercermin dari pertemuan FOMC terbaru yang memproyeksikan suku bunga yang lebih tinggi untuk periode mendatang. Ekspektasi kenaikan suku bunga yang kembali meningkat ini secara langsung memperkuat yield obligasi AS dan menarik aliran dana asing untuk masuk ke dalam aset-aset berdenominasi dolar.
Di sisi lain, penguatan DXY juga dipercepat oleh divergensi kebijakan moneter antara AS dengan bank sentral utama lainnya, seperti Bank Sentral Eropa (ECB). Sementara The Fed mempertahankan nada hawkish-nya untuk melawan inflasi, ECB diperkirakan akan tetap pada jalur kebijakan yang lebih dovish. Pelemahan mata uang-mata uang mayor lainnya dalam keranjang DXY, terutama Euro yang mendominasi bobot indeks, secara matematis dan fundamental turut mendongkrak nilai tukar dolar AS secara keseluruhan.
Menanggapi dinamika pasar ini, Joseph Trevisani, seorang Senior Analyst internasional dari FX Street, memberikan pandangannya mengenai kekuatan dolar AS saat ini. Ia menyoroti bahwa pasar mulai menyadari bahwa inflasi akan segera menjadi masalah yang serius kembali, yang pada akhirnya akan terus menopang kekuatan greenback. Selain itu, analis senior lainnya juga sepakat bahwa di tengah ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran inflasi, dolar AS diprediksi akan terus mengalami permintaan yang kuat sebagai aset safe-haven. Kombinasi antara status safe-haven dan yield tinggi membuat DXY sangat sulit untuk ditembus ke bawah dalam jangka pendek.
sumber : reuters
