Indeks Dolar AS Melemah di Tengah Euforia Hawkish The Fed
Indeks Dolar AS (DXY) tercatat mengalami pelemahan terbatas pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, setelah sebelumnya menguat tajam pasca keputusan Federal Reserve. DXY terpantau turun 0,13% ke level 100,02 saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB. Pelemahan ini terjadi setelah indeks mencapai level tertinggi di 100,35 pada pagi hari, menandakan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh para trader setelah reli signifikan yang dipicu oleh sinyal hawkish dari The Fed.
Pelemahan DXY tersebut terutama didorong oleh koreksi teknis setelah penguatan hampir 1% pada sesi sebelumnya. Pada hari Rabu (17/6), DXY melonjak tajam setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5-3,75%, namun dengan nada yang lebih hawkish dari yang diharapkan. The Fed merevisi naik proyeksi inflasi PCE untuk tahun 2026 dari 2,7% menjadi 3,6%, dan sekitar setengah dari anggota FOMC mengharapkan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini. Reaksi awal pasar yang sangat bullish terhadap dolar kemudian mereda pada siang hari Kamis seiring investor mencerna implikasi dari kebijakan moneter yang lebih ketat tersebut.
Faktor tambahan yang menekan DXY pada sesi siang adalah membaiknya sentimen risiko (risk appetite) di pasar global. Indeks-indeks saham Asia dan Eropa terpantau menguat pada sesi perdagangan Kamis, dengan STOXX Europe 600 naik 0,52% dan Nikkei 225 naik 0,72%. Penguatan pasar saham ini mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset safe-haven, sehingga menekan indeks dolar. Selain itu, adanya sinyal positif terkait negosiasi damai antara AS dan Iran juga memberikan dukungan bagi mata uang-mata uang berisiko, yang turut melemahkan posisi dolar.
Dari sisi fundamental jangka panjang, dolar AS memang menghadapi tekanan struktural sepanjang tahun 2026. Meera Chandan, Co-Head of Global FX Strategy di J.P. Morgan, mengamati bahwa “Late 2025 and early 2026 saw the dollar on the back foot, with a second round of Fed easing to support the labor market and flows turning decisively away from the U.S.”. Meskipun ada penguatan jangka pendek akibat sinyal hawkish The Fed pada Juni 2026, tren pelemahan dolar yang lebih luas tetap terlihat dari posisi DXY yang masih berada di sekitar level 100, jauh lebih rendah dibandingkan level tertingginya di awal tahun yang mencapai 100,64 pada 31 Maret 2026.
Sementara itu, David Adams, Head of G10 FX Strategy di Morgan Stanley, memberikan perspektif bahwa “The October Federal Reserve meeting reinforced a perception that U.S. rates are unlikely to decline as much or as quickly as previously anticipated”. Namun, ia juga mencatat bahwa ketidakpastian pasar tenaga kerja dan perubahan komposisi FOMC dapat memberikan tekanan negatif pada sentimen dolar dalam jangka menengah. Untuk paruh kedua 2026, Morgan Stanley memperkirakan DXY bisa rebound kembali ke level 100, didukung oleh prospek pertumbuhan AS yang resilien dan berakhirnya siklus pemotongan suku bunga The Fed. Pelemahan DXY ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks antara ekspektasi kebijakan moneter, sentimen risiko global, dan faktor teknis perdagangan.
sumber : reuters
