Indeks Dolar AS Melemah, Jelang FOMC Perdana Kevin Warsh
Indeks Dolar AS (DXY) tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, dengan turun ke level 99,51 atau melemah sekitar 0,23% dari hari sebelumnya saat berita ini ditulis Pukul 13.55 WIB. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang hati-hati menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni 2026, yang akan menjadi pertemuan pertama bagi Ketua The Fed baru, Kevin Warsh. Pasar saat ini memberikan probabilitas hampir 99% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, namun fokus utama tertuju pada “dot plot” baru dan proyeksi ekonomi yang akan dirilis. Data inflasi AS yang masih tinggi, dengan CPI Mei mencapai 4,2% year-on-year—jauh di atas target 2% The Fed—menjadi beban tersendiri bagi prospek dolar, karena menciptakan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Faktor utama yang menekan DXY pada hari ini adalah kombinasi dari rilis data ekonomi yang mixed dan ekspektasi pasar terhadap pergeseran kebijakan di bawah kepemimpinan Warsh. Pada Senin, 15 Juni 2026, pasar mencerna data Empire State Manufacturing Index dan Produksi Industri untuk bulan Mei, yang memberikan gambaran awal tentang sektor manufaktur AS yang telah mengalami pendinginan dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, narasi pasar berkembang bahwa Kevin Warsh akan mengarahkan FOMC ke arah yang lebih dovish, yang secara struktural memberatkan USD dan membuat kurva imbal hasil lebih curam. Warsh, yang dilantik sebagai Ketua The Fed ke-17 pada 22 Mei 2026, dikenal memiliki pandangan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi kekuatan disinflasi yang signifikan, yang dapat membenarkan suku bunga yang lebih rendah. Ia juga lebih memilih untuk memangkas neraca keuangan The Fed secara signifikan untuk menciptakan ruang bagi pemotongan suku bunga, sebuah pandangan yang berbeda dari pendekatan konvensional.
Dari sisi geopolitik, harapan gencatan senjata AS-Iran yang semakin dekat turut memberikan tekanan pada dolar AS melalui penurunan permintaan aset safe-haven. Menteri Luar Negeri Iran baru-baru ini menyatakan bahwa Memorandum of Understanding “tidak pernah lebih dekat” untuk dicapai, yang memicu reli pada aset berisiko dan menekan harga minyak. Penurunan harga minyak ini penting karena energi telah menjadi pendorong utama lonjakan inflasi terbaru; jika crude stabil di level yang lebih rendah, tekanan pada CPI dalam beberapa bulan ke depan berpotensi mereda. Namun, beban inflasi belum sepenuhnya terangkat, dan odds The Fed menaikkan suku bunga setidaknya sekali sebelum akhir tahun kini berada di atas 50%, yang membuat prospek dolar menjadi sangat bergantung pada nada dari konferensi pers Warsh pada 17 Juni nanti.
Elias Haddad, Kepala Riset Macro di Brown Brothers Harriman (BBH), dalam analisis terbarunya menyoroti bahwa meskipun narasi pasar mengharapkan Warsh akan memimpin FOMC ke arah yang lebih dovish, terdapat dua kendala utama yang dapat mengecewakan ekspektasi tersebut. Pertama, FOMC bukanlah pertunjukan satu orang—kebijakan dibuat secara kolektif oleh 12 anggota pemilih, dan pusat gravitasi dalam FOMC telah bergeser dari bias easing ke bias yang lebih netral. Beberapa presiden The Fed regional, termasuk Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan, tidak mendukung penyertaan bias easing dalam pernyataan pertemuan April lalu, sementara Gubernur The Fed yang cenderung dovish, Christopher Waller, bahkan menyatakan tidak dapat lagi mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak segera mereda. Kedua, risiko stres pasar pendanaan membatasi kemampuan The Fed untuk mengurangi neraca keuangannya secara signifikan, karena cadangan bank saat ini berada di level $3,1 triliun atau sekitar 10% dari PDB, dan penurunan lebih lanjut dapat memicu krisis likuiditas seperti yang terjadi pada krisis repo September 2019. Haddad menyimpulkan bahwa hasilnya kemungkinan akan menjadi latar belakang suku bunga yang lebih volatil dengan dolar menghadapi headwinds kredibilitas struktural, namun terbukti lebih tangguh secara siklis daripada yang diharapkan pasar.
Ke depan, prospek DXY akan sangat ditentukan oleh hasil pertemuan FOMC 16-17 Juni dan konferensi pers perdana Kevin Warsh. Morgan Stanley dalam outlook 2026 mereka memproyeksikan DXY dapat turun ke level 94 pada kuartal kedua 2026, level terendah sejak 2021, didorong oleh perlambatan pertumbuhan AS dan ekspektasi pemotongan suku bunga hingga 3%-3,25%. David Adams, Kepala Strategi G10 FX di Morgan Stanley, mencatat bahwa latar belakang global yang menguntungkan, dengan inflasi yang cenderung lebih rendah dan ketegangan perdagangan yang mereda, kemungkinan akan mendukung dolar dalam jangka menengah. Namun, dengan minggu perdagangan yang lebih pendek karena pasar AS tutup pada hari Jumat untuk libur Juneteenth, likuiditas bisa lebih tipis dari biasanya, yang cenderung memperbesar pergerakan Harga. Bagi para trader aktif, minggu ini lebih tentang mengelola volatilitas daripada memprediksi arah, dengan rekomendasi untuk mengamati reaksi pasar setelah konferensi pers Warsh sebelum mengambil posisi besar.
sumber : reuters
