Harga Emas Tertekan oleh Penguatan Dolar AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Emas (XAUUSD) diperdagangkan melemah, melanjutkan tekanan yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. XAUUSD diperdagangkan turun 0,31% ke level $4.305,09 per troy ounce saat berita ini ditulis Pukul 13.35 WIB pada hari Senin. Pelemahan ini terutama dipicu oleh penguatan signifikan Dolar Amerika Serikat (USD) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis Jumat lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar. Data Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Mei tercatat bertambah 172.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi analis sekitar 85.000 pekerjaan.

Kuatnya data tenaga kerja tersebut membuat pelaku pasar kembali memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama, bahkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun meningkat tajam. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury Yield) naik dan meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Akibatnya, investor cenderung mengurangi kepemilikan emas.

Selain itu, indeks Dolar AS (DXY) menguat hingga mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain USD sehingga permintaan fisik maupun investasi terhadap logam mulia tersebut berkurang. Faktor ini semakin memperbesar tekanan jual pada XAUUSD selama sesi perdagangan Asia hingga Eropa.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang biasanya menjadi sentimen positif bagi emas justru belum mampu mengangkat harga secara signifikan. Konflik yang melibatkan Israel dan Iran telah mendorong lonjakan harga minyak mentah, sehingga memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut justru memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas.

Pasar saat ini mulai mengalihkan fokus ke data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang akan dirilis pekan ini. Jika inflasi kembali menunjukkan kenaikan, peluang pengetatan kebijakan The Fed dapat semakin meningkat dan berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap harga emas.

Menurut Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, laporan tenaga kerja AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan membuat Federal Reserve tidak memiliki urgensi untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menilai kombinasi pasar tenaga kerja yang solid, harga energi yang tinggi, dan tekanan inflasi akibat konflik Timur Tengah menyebabkan biaya peluang memegang emas semakin besar. Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa investor terus melakukan aksi jual pada logam mulia di awal pekan ini.


sumber : reuters