Jelang Rilis Data PCE, Indeks Dolar AS Menguat Dipicu Ekspektasi Inflasi Baru
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak menguat 0,11% ke kisaran 99,01 pada perdagangan hari Selasa, 26 Mei 2026 pukul 13.50 WIB. Penguatan ini menandai pembalikan arah setelah DXY sempat tertekan di awal bulan akibat proses transisi kepemimpinan di Federal Reserve. Berdasarkan kondisi pasar paling terupdate siang ini, terdapat kombinasi kuat antara eskalasi geopolitik mendadak, data domestik AS yang memicu kekhawatiran inflasi baru, serta melebarnya selisih imbal hasil (yield spread) yang menjadi motor utama penyokong keperkasaan dolar.
Faktor pemicu paling signifikan yang menggerakkan pasar siang ini adalah lonjakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Laporan mengenai serangan militer AS dan Israel di dekat Selat Hormuz yang menyasar target-target Iran langsung merusak sentimen risiko global (risk-off sentiment). Karena Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi pasokan minyak mentah dunia, harga minyak mentah Brent spontan melonjak hingga mendekati $111 per barel. Dalam situasi ketidakpastian tinggi seperti ini, para pelaku pasar secara masif mengalihkan modal mereka keluar dari aset berisiko dan beralih ke aset aman (safe-haven), di mana Dolar AS menjadi pilihan utama global dibandingkan mata uang regional maupun aset sensitif komoditas lainnya.
Di sisi domestik Amerika Serikat, lonjakan harga minyak ini kembali mengobarkan api inflasi yang sebelumnya mulai mereda. Kekhawatiran akan terjadinya sticky inflation (inflasi yang membandel dan sulit turun) diperkuat oleh data ekonomi AS baru-baru ini yang menunjukkan bahwa komponen inflasi inti masih cukup panas. Pasar saat ini sedang mengantisipasi rilis data inflasi penting, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang dijadwalkan pada hari Kamis pekan ini. Ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi membuat para pelaku pasar mulai memperhitungkan kembali probabilitas bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan di sisa tahun 2026.
Ditinjau dari kebijakan moneter, posisi Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di level tinggi 3,50% – 3,75% memberikan keunggulan komparatif yang masif bagi Dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh dinamika di bank sentral utama lainnya, seperti Bank of Japan (BoJ) yang sangat lambat dalam menaikkan suku bunganya (berada di kisaran 0% – 0,5%) dan pelemahan pertumbuhan ekonomi di Zona Euro yang membebani mata uang Euro (EUR), sebagai komponen terbesar dalam bobot DXY. Divergensi kebijakan moneter ini menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield 10-tahun) bertahan kokoh di kisaran 4,2% – 4,5%, sehingga arus modal asing terus mengalir masuk ke ekosistem keuangan AS demi memburu imbal hasil yang tinggi dan aman.
Secara keseluruhan, penguatan DXY pada siang hari ini merupakan refleksi dari runtuhnya selera risiko global yang berbarengan dengan ekspektasi suku bunga “higher-for-longer” di Amerika Serikat. Kombinasi antara ancaman blokade energi di Selat Hormuz dan kokohnya pertumbuhan ekonomi AS menciptakan benteng pertahanan yang sangat kuat bagi Dolar AS dari tekanan depresiasi. Selama risiko geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi yang konkret dan data PCE mendatang berpotensi mengonfirmasi inflasi yang persisten, Indeks Dolar AS diproyeksikan akan terus mempertahankan momentum bullish-nya dalam jangka pendek ini.
sumber : reuters
