Hormuz Memanas Lagi, Serangan Udara AS-Israel Dongkrak Harga Minyak

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak menguat dan diperdagangkan di kisaran $91,67 per barel pada Selasa, 26 Mei 2026, pukul 13.10 WIB. Kenaikan intraday sebesar 2,05% ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar komoditas terhadap dinamika terbaru di Timur Tengah. Lonjakan harga ini didorong oleh benturan keras antara eskalasi militer mendadak di jalur pasokan kritis global dan harapan diplomatik yang masih menggantung.

Faktor utama yang memicu respons instan pasar pada jam perdagangan hari ini adalah laporan resmi dari Komando Sentral Amerika Serikat (US Central Command) mengenai serangan udara baru terhadap target militer Iran di dekat Selat Hormuz. Jet tempur AS dan Israel dilaporkan menghantam beberapa situs peluncuran rudal dan kapal-kapal yang diduga berusaha memasang ranjau di wilayah selatan Iran, termasuk dekat Pulau Larak dan Bandar Abbas. Serangan terukur namun agresif ini langsung membuyarkan ketenangan pasar yang sempat terbentuk pada hari sebelumnya, menghidupkan kembali kecemasan akan risiko gangguan pasokan fisik (supply disruption).

Ketakutan pasar sangat beralasan mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas global. Sejak konflik AS-Iran memuncak dan menyebabkan penutupan sebagian jalur navigasi komersial sejak akhir Februari lalu, premi risiko geopolitik telah tertanam kuat pada harga minyak, mendongkrak nilainya lebih dari 50% dibandingkan tahun lalu. Insiden militer terbaru di selat ini memicu kekhawatiran bahwa Teheran akan memperketat blokade maritimnya, menghambat pemulihan arus keluar minyak mentah dari negara-negara produsen utama di Teluk Persia.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak saat ini menunjukkan volatilitas yang tinggi karena pelaku pasar sedang menyeimbangkan sentimen perang dengan perkembangan meja perundingan di Doha, Qatar. Delegasi Iran baru saja tiba di Doha untuk membahas draf nota kesepahaman (MoU) yang ditengahi oleh Qatar, yang berpotensi menghasilkan gencatan senjata 60 hari dan pembongkaran ranjau laut dalam waktu 30 hari. Pernyataan optimis dari Washington bahwa negosiasi berjalan “cukup baik” sempat menahan reli minyak agar tidak melesat melampaui level psikologis $100 per barel, namun ketidakpastian realisasi kesepakatan tersebut membuat para spekulator tetap mengambil posisi beli (long).

Secara fundamental, penguatan WTI siang ini menegaskan bahwa pasar saat ini dikendalikan oleh sentimen jangka pendek yang sangat reaktif terhadap berita (headline-driven). Selama kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh belum terwujud dan risiko hulu ledak masih membayangi infrastruktur energi Timur Tengah, para pelaku pasar cenderung mengabaikan proyeksi pelemahan permintaan global jangka panjang. Risiko geopolitik tetap menjadi kekuatan dominan yang menjaga harga WTI bertahan kokoh di atas level $90 per barel pada paruh hari perdagangan ini.


sumber : reuters