Tekanan Yield Obligasi AS dan Meredanya Risiko Geopolitik, Seret Harga Emas
Harga emas dunia (XAUUSD) bergerak melemah dan sempat turun di kisaran $4.453,54 per troy ounce. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi tajam dari hari sebelumnya, membawa aset safe haven ini ke level terendahnya dalam hampir dua bulan terakhir. Meskipun emas sempat mencatatkan reli luar biasa hingga awal tahun, dinamika makroekonomi terbaru memaksa para pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) dan mendiversifikasi portofolio mereka ke aset lain yang memberikan imbal hasil langsung.
Faktor fundamental utama yang menjadi motor penggerak pelemahan ini adalah rilis data inflasi dari beberapa negara maju yang ternyata bertahan di level tinggi. Tingginya angka inflasi pasca-konflik di Timur Tengah beberapa pekan lalu memicu kekhawatiran baru bahwa bank sentral global, khususnya Federal Reserve (The Fed), akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (hawkish). Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan tahun ini kian menyusut, bahkan muncul spekulasi bahwa The Fed di bawah kepemimpinan baru masih membuka peluang untuk menaikkan suku bunga sekali lagi jika inflasi membandel.
Kebijakan moneter yang ketat ini secara langsung mendongkrak kinerja Yield Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) 10-tahun dan 30-tahun ke level tertinggi baru dalam beberapa bulan terakhir. Karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), kenaikan bunga obligasi membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang emas menjadi sangat mahal. Investor lebih memilih menaruh dana mereka pada obligasi AS yang menawarkan imbal hasil riil yang terjamin ketimbang menyimpan emas, yang akhirnya menekan harga XAUUSD ke bawah zona dukungan (support) pentingnya.
Selain tekanan dari pasar obligasi, meredanya premi risiko geopolitik turut melonggarkan daya tarik emas sebagai aset pelindung. Gencatan senjata kondisional antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berjalan selama lebih dari enam minggu dilaporkan masih bertahan. Meskipun tensi sempat sedikit memanas akibat pernyataan terbaru Presiden Donald Trump, pasar melihat adanya kemajuan dalam jalur diplomasi dan normalisasi jalur pengapalan minyak di Selat Hormuz. Berkurangnya risiko perang terbuka ini membuat investor berani keluar dari aset aman dan beralih ke pasar ekuitas (saham) yang sedang mengalami reli.
Dari sisi teknis yang digerakkan oleh arus fundamental, pelemahan hari ini juga mencerminkan kehati-hatian pasar yang masif menjelang rilis Notulen Rapat FOMC (FOMC Minutes) yang dijadwalkan malam nanti. Para pelaku pasar memilih bersikap defensif untuk melihat seberapa keras kompromi internal The Fed mengenai arah inflasi dan suku bunga kedepan. Selama spekulasi hawkish mendominasi dan kekuatan Dolar AS tetap terjaga di level tertingginya, harga emas diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan jual yang berat dalam jangka pendek, menguji batas psikologis bawah berikutnya.
sumber : reuters
