Indeks Dolar Menguat karena Geopolitik Alotnya Perundingan AS-Iran
Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) terpantau mempertahankan posisi kuatnya di kisaran level 99 pada perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026. DXY diperdagangkan naik 0,17% ke level 99,02 saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Penguatan ini menjadi cerminan dari kembalinya dominasi mata uang greenback di pasar finansial global setelah sempat mengalami konsolidasi di awal kuartal. Kombinasi dinamis antara eskalasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, serta pergeseran drastis pada ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) menjadi bahan bakar utama yang mendorong para pelaku pasar untuk terus mengakumulasi dolar AS.
Faktor pemicu paling krusial di balik ketangguhan dolar AS saat ini adalah berlanjutnya krisis geopolitik serta alotnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Tersendatnya jalur diplomasi ini berdampak langsung pada disrupsi aktivitas logistik di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia, sehingga mendongkrak harga minyak mentah Brent mendekati kisaran USD 110 per barel. Tingginya harga energi global tidak hanya memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara, tetapi juga memperkuat fungsi alami dolar AS sebagai aset aman (safe-haven) pilihan utama investor ketika pasar ekuitas global mengalami tekanan jual (risk-off).
Di sisi domestik AS, lonjakan harga komoditas tersebut berimbas pada kembalinya tekanan inflasi, di mana data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS merangkak naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Konsekuensinya, para pelaku pasar terpaksa merombak total proyeksi kebijakan moneter mereka; harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada tahun 2026 kini telah sepenuhnya pupus. Sebaliknya, pasar justru mulai memperhitungkan probabilitas sebesar 30% hingga 40% bahwa bank sentral AS—yang tengah bersiap menyambut transisi kepemimpinan ke era Kevin Warsh—mungkin akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun guna meredam inflasi.
Dampak langsung dari ekspektasi kebijakan yang kian hawkish ini terlihat jelas pada pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun melonjak tajam hingga sempat menyentuh level 4,581%, yang merupakan level tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan yield obligasi ini memberikan keunggulan selisih suku bunga (yield differential) yang signifikan bagi aset-aset finansial berbasis dolar AS dibandingkan dengan kawasan lain seperti Inggris atau Zona Euro. Investor asing yang ingin mengamankan keuntungan dari pasar obligasi AS harus membeli mata uang dolar terlebih dahulu, yang secara otomatis melipatgandakan permintaan riil terhadap DXY di pasar valuta asing.
Secara keseluruhan, konvergensi dari inflasi yang membandel, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, serta daya tarik yield obligasi AS yang kokoh telah membentuk fondasi fundamental yang sangat kuat bagi DXY untuk tetap diperdagangkan menguat hingga siang hari ini. Meskipun pasar sempat diwarnai sedikit konsolidasi intraday seiring munculnya harapan baru terkait kelanjutan negosiasi, tren makroekonomi jangka pendek masih sangat memihak pada keunggulan dolar AS. Para pelaku pasar kini bersiap mengantisipasi rilis risalah rapat (minutes) FOMC terbaru serta data awal Purchasing Managers’ Index (PMI) AS untuk mengonfirmasi kekuatan momentum greenback ke depan.
sumber : reuters
