Aksi Borong Bank Sentral dan Isu Diplomasi AS-Iran, Harga Emas Ditutup Rebound

Pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026, harga emas dunia (XAUUSD) berhasil mencatatkan pembalikan arah (rebound) yang signifikan setelah sempat tertekan ke zona terendah sejak akhir Maret 2026 di kisaran $4.480,39 per troy ounce. Emas menghapus penurunan awal sesi dan berhasil ditutup menguat di level $4.584,03 per troy ounce. Pemulihan ini menjadi sinyal kuat resiliensi logam mulia setelah sempat mengalami koreksi tajam hampir 4% pada pekan sebelumnya akibat meningkatnya ekspektasi kebijakan hawkish dari Bank Sentral AS (Federal Reserve).

Faktor fundamental utama yang memicu pembalikan arah XAUUSD pada 18 Mei 2026 adalah munculnya laporan mengenai potensi terobosan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar merespons spekulasi bahwa AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump kemungkinan akan melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran, dengan imbalan pembekuan jangka panjang program nuklir Teheran. Meskipun ketegangan di Selat Hormuz sebelumnya sempat memicu kekhawatiran inflasi energi, prospek kepastian geopolitik ini justru memicu penutupan posisi pendek (short-covering) oleh para pedagang, yang menyokong kenaikan harga emas dari level support kritisnya.

Sebelum berhasil ditutup menguat, pergerakan emas sebenarnya dibayangi oleh rilis data inflasi (CPI) AS bulan April yang melampaui ekspektasi pasar dengan mencatatkan pertumbuhan 3,8% secara tahunan (YoY)—laju tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir. Data inflasi yang panas ini sempat mendongkrak indeks Dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS karena pasar mulai menghapus ekspektasi pemotongan suku bunga Fed tahun ini di bawah kepemimpinan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh. Namun, alih-alih terus melemah, status emas sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi jangka panjang justru menarik minat beli yang kuat saat harganya menyentuh level diskon.

Sisi fundamental emas juga diperkuat oleh dukungan struktural yang solid dari aktivitas pembelian bank sentral global, khususnya Bank Sentral China (PBOC). Berdasarkan data pasar, PBOC terus menambah cadangan emasnya selama lebih dari 17 bulan berturut-turut. Di samping itu, agenda pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping di Beijing guna membahas tarif perdagangan, kuota mineral jarang (rare earth), serta kerja sama regional turut mempertahankan mode risk-off yang terselubung di pasar finansial, sehingga mendorong investor institusional untuk tetap mengalokasikan dana mereka pada aset aman (safe haven).

Secara keseluruhan, penutupan menguat XAUUSD pada 18 Mei 2026 didorong oleh konvergensi antara faktor teknikal dan fundamental. Di pasar berjangka, emas membentuk pola grafik bullish hammer pada kerangka waktu pendek, yang dipicu oleh akumulasi beli di level support psikologis. Kombinasi antara ekspektasi inflasi yang tinggi, ketidakpastian politik global, serta aksi borong bank sentral berhasil mengimbangi dampak negatif dari penguatan dolar, sekaligus memantapkan posisi emas untuk menghadapi rilis risalah rapat FOMC (FOMC Minutes) pada pekan berjalan.


sumber : reuters