Stok IEA Merosot dan Ketegangan Selat Hormuz, Dorong Lonjakan Harga Minyak

Perdagangan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada hari Senin, 18 Mei 2026 terpantau bergerak menguat secara signifikan, menguji level resistensi krusial di kisaran $104,00 per barel. WTI diperdagangkan naik 1,58% ke level $103,11 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Penguatan tajam ini didorong oleh kombinasi eskalasi ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah serta pengetatan pasokan global secara struktural. Sentimen pasar beralih ke mode bullish yang kuat seiring dengan kekhawatiran para pelaku pasar terhadap terganggunya rantai pasok energi global menjelang musim permintaan puncak (summer demand peak).

Faktor penggerak utama pada perdagangan siang ini adalah memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah setelah adanya laporan serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab (UEA). Insiden ini diperparah oleh kebuntuan total dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara pihak Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Penutupan jalur distribusi vital di Selat Hormuz yang terus berlanjut telah memotong pasokan dari negara-negara Teluk hingga 14,4 juta barel per hari (bpd) di bawah level sebelum pecahnya konflik, yang memicu kepanikan akut akan kelangkaan minyak mentah di pasar internasional.

Kondisi tersebut diperkuat oleh rilis data terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) dalam Oil Market Report edisi Mei 2026, yang menunjukkan adanya penurunan drastis pada persediaan minyak global (global inventory draw). Inventaris minyak terpantau merosot sebanyak 129 juta barel pada Maret dan berlanjut turun lagi sebesar 117 juta barel pada April. Penurunan stok komoditas di darat (on-land stocks) yang masif ini mencerminkan bahwa pasar minyak saat ini sedang berada dalam kondisi defisit yang sangat dalam, sehingga harga kontrak berjangka WTI terus mendapatkan dorongan naik yang kuat secara fundamental.

Meskipun produsen minyak di luar kawasan Timur Tengah, khususnya Amerika Serikat, telah menggenjot kapasitas produksinya hingga mencetak rekor ekspor gabungan mencapai 14,2 juta barel per hari di awal tahun 2026, pasokan alternatif ini dinilai belum mampu menutup kekosongan pasokan (supply vacuum) yang ditinggalkan oleh kawasan Teluk. Keterbatasan kapasitas kilang global serta tingginya biaya logistik baru membuat distribusi minyak mentah menjadi sangat ketat. Akibatnya, premi risiko geopolitik tersemat tinggi pada harga minyak mentah dunia.

Secara keseluruhan, penguatan harga minyak WTI pada siang hari ini merupakan refleksi langsung dari kekhawatiran nyata pasar terhadap krisis pasokan yang berkepanjangan. Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda dan kebuntuan negosiasi politik internasional terus berlanjut, tren kenaikan harga minyak diproyeksikan akan tetap mendominasi pasar. Para investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi, mengingat defisit pasar diperkirakan akan terus bertahan hingga kuartal terakhir tahun 2026.


sumber : reuters