Harga Minyak Tergelincir, Jelang KTT Beijing dan Revisi Permintaan Global

Harga minyak mentah WTI terpantau bergerak melemah, berkonsolidasi setelah sempat mengalami lonjakan tajam pada hari sebelumnya. WTI diperdagangkan turun 1,1% di level $101 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.00 pada hari Rabu. Pelemahannya ini sebagian besar dipicu oleh sikap “wait and see” para pelaku pasar yang mengantisipasi rilis data ekonomi krusial Amerika Serikat serta adanya sentimen optimisme dari jalur diplomasi global. Para investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah harga melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Selasa akibat kebuntuan negosiasi di Timur Tengah.

Faktor utama yang menekan harga minyak siang ini adalah ekspektasi pasar terhadap kunjungan Presiden Amerika Serikat ke China untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini di Beijing. Pertemuan tingkat tinggi ini memunculkan harapan akan adanya deeskalasi ketegangan geopolitik yang telah mengganggu jalur logistik energi global selama beberapa bulan terakhir. Meskipun ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjadi latar belakang yang mencemaskan, rumor mengenai potensi kerja sama perdagangan baru atau kesepakatan stabilitas energi antara dua raksasa ekonomi ini cukup kuat untuk meredam premi risiko yang sebelumnya melambungkan harga.

Dari sisi permintaan, laporan bulanan dari Badan Informasi Energi (EIA) yang dirilis baru-baru ini memberikan sentimen negatif tambahan. EIA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026 secara signifikan, dari perkiraan awal 600.000 barel per hari menjadi hanya 200.000 barel per hari. Penurunan proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran terhadap melambatnya aktivitas manufaktur di Asia dan dampak harga energi yang tinggi terhadap konsumsi rumah tangga global, sehingga menekan prospek penyerapan pasokan di masa depan.

Secara makroekonomi, penguatan Indeks Dolar AS (DXY) menjelang rilis data Producer Price Index (PPI) dan inflasi konsumen Amerika Serikat turut membebani komoditas yang dihargai dalam dolar. Investor mengkhawatirkan jika data inflasi tetap “panas” (tinggi), Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer). Kebijakan moneter yang ketat ini secara historis memperlemah daya beli komoditas seperti minyak mentah dan meningkatkan biaya pinjaman untuk operasional industri, yang pada akhirnya memicu aksi jual di pasar berjangka.

Terakhir, pasar saat ini sedang menantikan rilis data stok minyak mentah mingguan dari pemerintah AS (EIA) yang dijadwalkan keluar malam nanti. Konsensus pasar memperkirakan adanya sedikit penurunan stok, namun kekhawatiran akan peningkatan produksi domestik AS yang terus merangkak naik membuat trader ragu untuk mempertahankan posisi long. Kombinasi antara koreksi teknikal setelah reli kemarin, pemangkasan proyeksi permintaan global, dan harapan akan terobosan diplomatik menjadi alasan utama mengapa WTI diperdagangkan melemah pada siang hari ini.


sumber : reuters