Harga Emas Berbalik Menguat, Setelah Sempat Tertekan di Awal Sesi
Harga emas dunia berbalik menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026), setelah sempat tertekan lebih dari 1% di awal sesi. Pelaku pasar mulai melakukan aksi bargain hunting sambil mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta menunggu rilis data inflasi AS pekan ini.
Harga emas ditutup naik 0,43% menjadi US$ 4.734,6 per ons.
Dikutip dari Reuters, analis pasar dari American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan, penguatan emas dipicu aksi beli di level bawah menjelang rilis data inflasi AS. “Pasar mulai melakukan bargain hunting dan mengambil posisi menjelang data inflasi AS minggu ini,” ujar Wyckoff.
Fokus investor kini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis Selasa (12/5/2026) waktu setempat, disusul Producer Price Index (PPI) pada Rabu (13/5/2026). Kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian Washington. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan akan terus berlanjut dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Gangguan di jalur distribusi minyak global itu turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memperbesar risiko inflasi global.
Analis ING dalam risetnya menyebut, mandeknya negosiasi damai meningkatkan ketidakpastian pasar dalam jangka pendek. “Risiko inflasi tetap tinggi dan memperkuat pandangan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, yang selama ini membebani pergerakan emas,” tulis ING.
Meski demikian, ING masih mempertahankan proyeksi harga emas berpotensi mencapai US$ 5.000 per ons pada akhir tahun.
Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Sebagian analis bahkan memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga hingga 2026.
Kondisi suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan opportunity cost aset tanpa imbal hasil tersebut.
Pasar juga mencermati agenda kunjungan dua hari Trump ke China pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), hingga senjata nuklir.
Sementara itu, saham peritel perhiasan di India melemah setelah Perdana Menteri Narendra Modi meminta masyarakat menahan pembelian emas selama satu tahun demi menjaga cadangan devisa negara. India merupakan konsumen emas terbesar kedua di dunia.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 7,18% dan ditutup di US$ 86,06 per ons.
sumber : investor.id
