Badai Geopolitik dan Kejutan NFP, Dolar Kembali ke Jalur Bullish

Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak menguat secara signifikan terhadap mayoritas mata uang utama global. DXY diperdagangkan naik 0,23% di level 97,95 saat berita ini ditulis Pukul 13.30 WIB pada hari Senin. Penguatan ini didorong oleh kombinasi sentimen risk-off akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan rilis data ekonomi domestik Amerika Serikat yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Dolar AS kembali menunjukkan perannya sebagai aset safe-haven utama saat pasar finansial dilanda kecemasan.

Faktor pendorong utama penguatan DXY siang ini adalah gagalnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan pasar akan de-eskalasi konflik di Timur Tengah pupus setelah Presiden AS menolak proposal terbaru dari Teheran terkait pengayaan uranium dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian mengenai jalur perdagangan energi yang krusial ini memicu aksi jual pada aset berisiko (seperti saham dan mata uang emerging markets) dan mendorong investor untuk mengamankan modal mereka ke dalam aset berbasis dolar.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi katalisator penguatan Greenback. Brent dan WTI mencatat kenaikan lebih dari 3-4% hanya dalam hitungan jam menyusul kebuntuan diplomasi di Selat Hormuz. Bagi Amerika Serikat, kenaikan harga energi ini kembali memicu kekhawatiran inflasi yang “lengket” (sticky inflation). Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga, yang secara otomatis menjaga daya tarik imbal hasil (yield) dolar tetap tinggi dibandingkan mata uang negara maju lainnya.

Kekuatan fundamental Dolar AS juga didukung oleh rilis data ketenagakerjaan (Nonfarm Payrolls) akhir pekan lalu yang melampaui ekspektasi pasar. Ekonomi AS dilaporkan mampu menambah 115.000 lapangan kerja baru pada bulan April, jauh di atas proyeksi awal sebesar 62.000. Ketahanan pasar tenaga kerja ini memberikan pesan kepada pelaku pasar bahwa ekonomi AS masih cukup kuat untuk menahan tekanan guncangan energi, sehingga mempersempit ruang bagi kebijakan moneter yang longgar dalam waktu dekat.

Terakhir, penguatan DXY siang ini juga merupakan refleksi dari pelemahan mata uang mitra dagang utamanya, terutama Euro dan Yen. Kawasan Eropa yang sangat bergantung pada impor energi terdampak lebih berat oleh lonjakan harga minyak dibandingkan AS. Sementara itu, sebagian besar mata uang Asia, mengalami tekanan depresiasi karena aliran modal keluar (capital outflow) menuju pasar obligasi AS. Dengan kondisi fundamental yang kontras ini, Indeks Dolar memiliki pijakan yang kokoh untuk tetap berada di zona hijau sepanjang sesi perdagangan hari ini.


sumber : reuters