Dilema The Fed, Antara Tekanan Inflasi dan Melambatnya Sektor Pekerjaan
Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, menjadi sorotan utama pasar keuangan setelah indeks ini tergelincir ke level 97,99, turun sekitar 0,07% dari penutupan sebelumnya saat berita ini ditulis Pukul 14.20 WIB. Penurunan ini mempertegas tren bearish yang telah membayangi greenback sepanjang tahun 2026, di mana dolar telah kehilangan lebih dari 2% nilainya secara bulanan. Tekanan jual hari ini bukan tanpa alasan; kombinasi antara data makroekonomi yang mendingin dan pergeseran sentimen risiko global menjadi motor utama di balik lunglainya mata uang Paman Sam tersebut.
Pemicu utama koreksi hari ini adalah rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) untuk bulan April yang menunjukkan perlambatan signifikan dalam penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat. Angka NFP yang diperkirakan hanya tumbuh moderat, jauh di bawah angka bulan sebelumnya yang mencapai 178.000 pekerjaan. Dengan tingkat pengangguran yang merayap tetap di kisaran 4,3%, pasar mulai meragukan narasi “ketangguhan ekonomi” AS yang selama ini menjadi fondasi kekuatan dolar. Data ini memberikan sinyal kuat bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum akibat transmisi kebijakan moneter ketat yang berkepanjangan.
Dari sisi kebijakan moneter, sikap Federal Reserve yang semakin terpecah turut membebani dolar. Hasil pertemuan terakhir menunjukkan adanya perbedaan pendapat (split) yang jarang terjadi di antara para pejabat bank sentral, dengan suara 8-4 yang mengindikasikan pergeseran menuju posisi netral. Meskipun inflasi masih berada di atas target (sekitar 3%—3,9% menurut data PCE), pernyataan Ketua Fed Jerome Powell yang menyebutkan bahwa ekonomi sedang menuju “keadaan netral” tanpa urgensi untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut telah menghapus ekspektasi hawkish para pelaku pasar. Hal ini membuat daya tarik yield obligasi AS menurun di mata investor global.
Selain faktor domestik, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memainkan peran krusial. Adanya laporan mengenai gencatan senjata yang rapuh namun progresif telah mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven. Selama masa konflik, DXY sempat menguat karena aliran dana pelarian ke aset aman, namun seiring dengan de-eskalasi situasi, investor mulai mengalihkan modal mereka kembali ke aset-aset berisiko dan mata uang negara berkembang. Berkurangnya “premi risiko” ini secara otomatis melemahkan posisi DXY terhadap keranjang mata uang utama lainnya seperti Euro dan Yen.
Secara teknikal, pelemahan pada 8 Mei 2026 ini juga dipicu oleh munculnya pola bearish island reversal pada grafik harian DXY, yang menunjukkan bahwa penjual kini memegang kendali pasar. Dengan indeks yang saat ini mendekati zona dukungan kritis di level 97,56 – 97,82, para analis memperkirakan bahwa jika penutupan harian tetap berada di bawah level ini, potensi penurunan lebih lanjut menuju angka 96,00 menjadi sangat terbuka. Dolar AS kini berada di persimpangan jalan, menunggu katalis baru untuk bisa bangkit dari tekanan struktural yang ada.
sumber : reuters
