Kembalinya Risk-On, Investor Tinggalkan Dolar demi Aset Berisiko

Indeks Dolar AS (DXY) mencatatkan penurunan signifikan hingga menyentuh level terendah dalam sembilan minggu terakhir. DXY diperdagangkan tetap di 97,88 saat berita ini ditulis Pukul 13.35 WIB pada hari Kamis. Pelemahan ini mengakhiri reli panjang DXY yang sebelumnya didorong oleh status safe haven akibat ketegangan geopolitik. Faktor utama yang memicu pembalikan arus modal ini adalah munculnya prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya kabar mengenai proposal baru antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik. Hilangnya premi risiko perang membuat investor mulai melepas aset dolar dan beralih kembali ke mata uang yang lebih berisiko namun menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, tekanan terhadap Dolar juga diperkuat oleh sikap Federal Reserve (The Fed) yang mulai melunak. Meskipun inflasi belum sepenuhnya mencapai target 2%, data terbaru menunjukkan bahwa tekanan harga mulai melandai seiring turunnya harga energi global. Spekulasi pasar mengenai berakhirnya siklus kenaikan suku bunga semakin menguat setelah pertemuan FOMC akhir April lalu. Investor kini mengantisipasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga stabil (pause) sebelum akhirnya melakukan pemangkasan di paruh kedua tahun 2026, yang secara otomatis mengurangi daya tarik imbal hasil aset berbasis dolar.

Kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang mulai menunjukkan normalisasi turut menjadi katalis negatif bagi Dolar. Laporan terbaru menunjukkan bahwa meskipun penyerapan tenaga kerja masih positif, laju pertumbuhannya tidak lagi seagresif periode sebelumnya, dengan tingkat pengangguran yang merangkak naik ke kisaran 4,3%. Melambatnya pertumbuhan upah riil juga memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi dari sisi permintaan mulai mereda. Hal ini memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk tidak lagi bersikap agresif, yang dalam jangka pendek memicu aksi jual pada Dolar AS.

Secara eksternal, penguatan mata uang rival utama dalam keranjang DXY, seperti Euro dan Poundsterling, memberikan tekanan tambahan. Membaiknya prospek ekonomi di kawasan Eropa dan Inggris, didukung oleh stabilnya harga gas alam dan energi, membuat investor melakukan diversifikasi portofolio keluar dari Amerika Serikat. Selain itu, langkah-langkah stabilisasi mata uang yang dilakukan oleh bank sentral negara-negara berkembang, termasuk kebijakan baru di Asia untuk memperkuat cadangan devisa, telah mengurangi ketergantungan pasar terhadap likuiditas dolar secara global pada hari ini.

Secara teknis dan fundamental, penutupan DXY di bawah level psikologis penting pada 7 Mei ini menandakan pergeseran sentimen pasar dari “ketakutan” menjadi “optimisme pertumbuhan”. Selama de-eskalasi konflik Timur Tengah berlanjut dan data inflasi AS terus menunjukkan tren penurunan, tekanan terhadap Indeks Dolar diprediksi akan tetap ada. Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada data Non-Farm Payrolls mendatang untuk mengonfirmasi apakah pelemahan dolar ini merupakan awal dari tren bearish jangka panjang hingga akhir tahun 2026.


sumber : reuters