Indeks Dolar AS Tertekan, di Balik Kebangkitan Yen dan Euro

Indeks Dolar AS (DXY) mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan 6 Mei 2026. DXY diperdagangkan turun 0,37% ke level 98 saat berita ini ditulis Pukul 14.25 WIB hari ini dan menarik perhatian pasar karena terjadi tepat di tengah periode transisi kepemimpinan di Federal Reserve. Sentimen utama yang memicu koreksi ini adalah kombinasi dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan spekulasi mengenai arah kebijakan moneter yang lebih moderat di bawah calon Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, yang dijadwalkan segera menggantikan Jerome Powell.

Faktor pendorong utama pertama adalah penurunan harga energi global. Setelah sempat melonjak akibat konflik di Selat Hormuz antara AS dan Iran, tensi dilaporkan mulai mendingin pada awal Mei 2026. Penurunan harga minyak mentah dari level puncaknya secara otomatis mengurangi permintaan terhadap safe-haven Dolar. Investor yang sebelumnya “parkir” di aset likuid seperti USD mulai mengalihkan modal mereka kembali ke pasar ekuitas dan mata uang berisiko lainnya, menciptakan tekanan balik bagi indeks DXY.

Secara fundamental, data ekonomi yang dirilis juga menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Laporan Federal Funds Effective Rate yang stabil di angka 3,64% memberikan sinyal bahwa Fed saat ini berada dalam posisi wait-and-see. Meskipun inflasi tahunan (CPI) masih berada di kisaran 3,74%, pasar melihat adanya potensi pelonggaran kebijakan di masa depan. Pernyataan dari beberapa pejabat regional Fed, termasuk John Williams, yang mengisyaratkan bahwa kebijakan moneter saat ini sudah cukup restriktif untuk meredam inflasi, memperkuat keyakinan pasar bahwa siklus kenaikan suku bunga telah benar-benar berakhir.

Selain itu, dinamika internal di dalam Federal Reserve turut membebani Dolar. Perpecahan suara dalam rapat kebijakan terakhir—di mana terdapat empat anggota yang memberikan suara berbeda (dissent)—menciptakan ketidakpastian mengenai kohesi kebijakan di masa depan. Ketidakpastian ini diperparah oleh proses konfirmasi Senat untuk Kevin Warsh. Pasar cenderung bersikap spekulatif terhadap kepemimpinan baru, yang sering kali diartikan dengan aksi ambil untung (profit taking) pada posisi long Dolar yang sudah jenuh selama beberapa bulan terakhir.

Terakhir, penguatan mata uang rival utama seperti Yen Jepang (JPY) dan Euro (EUR) memberikan kontribusi besar pada jatuhnya DXY. Pelemahan Dolar terhadap Yen yang mencapai lebih dari 1,5% dalam satu hari mencerminkan adanya aliran modal keluar dari AS menuju pasar Asia yang mulai pulih, didorong oleh sektor teknologi dan AI yang sedang booming. Dengan membaiknya sentimen risiko global (risk-on), daya tarik DXY sebagai aset perlindungan menurun, memaksa indeks ini bergerak di zona merah pada penutupan sesi perdagangan 6 Mei 2026.


sumber : reuters