Harga Emas Kembali Meledak, Setelah Sentuh Level Terendah Satu Bulan
Harga emas dunia kembali meledak pada perdagangan Kamis (30/4/2026), setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan. Lonjakan itu didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya harga minyak global.
Dikutip dari Reuters, namun di balik lonjakan tersebut, pasar masih dibayangi risiko besar yang membuat emas tmencatatkan penurunan bulanan untuk dua bulan berturut-turut.
Harga emas ditutup melejit 1,72% menjadi US$ 4.621,72 per ons.
Penguatan emas terutama dipengaruhi pelemahan dolar AS serta meredanya tekanan di pasar energi global.
“Ada sedikit kelegaan dari perlambatan kenaikan harga energi serta pelemahan dolar, dan ini memberikan dukungan bagi emas. Namun fokus pasar tetap tertuju pada ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed,” ujar Director of Metals Trading di High Ridge Futures David Meger.
Pelemahan dolar terjadi setelah Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) melakukan intervensi untuk menopang yen, yang merupakan langkah resmi pertama dalam hampir dua tahun terakhir. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global karena dihargai dalam dolar AS.
Di sisi lain, harga minyak dunia sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun sebelum akhirnya terkoreksi. Lonjakan harga energi sebelumnya telah memicu kekhawatiran inflasi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Meski menguat, secara bulanan emas mencatatkan penurunan lebih dari 1%. Kondisi ini terjadi karena tingginya suku bunga cenderung menekan daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil (yield), dibandingkan aset berbunga lainnya.
Dari sisi kebijakan, The Fed pada pertemuan terbarunya kembali menahan suku bunga, namun tetap menyoroti risiko inflasi yang masih tinggi. Bank of England juga mengambil langkah serupa, sambil memperingatkan potensi dampak ekonomi dari perang Iran yang bisa memaksa kenaikan suku bunga lebih agresif jika inflasi tidak terkendali.
Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga belanja konsumsi pribadi (PCE) AS naik 0,7% pada bulan lalu, kenaikan terbesar sejak Juni 2022, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Di tengah kondisi tersebut, analis Citi memperkirakan tekanan jual emas masih dapat berlanjut dalam jangka pendek akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Namun, dalam jangka menengah, emas dinilai tetap memiliki peluang untuk kembali menguat sebagai aset safe haven.
Citi mempertahankan proyeksi harga emas di US$ 4.300 per ons untuk tiga bulan ke depan, serta US$ 5.000 per ons dalam jangka 6–12 bulan.
Sementara itu, logam mulia lainnya turut mencatat penguatan signifikan. Perak naik hampir 3% dan ditutup di US$ 73,71 per ons.
sumber : investor.id
