The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Retaknya Soliditas Internal The Fed
Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%–3,75% pada Rabu (29/4/2026) waktu setempat. Namun di balik keputusan yang sesuai ekspektasi pasar tersebut, muncul sinyal kuat bahwa soliditas internal The Fed mulai retak, dengan tingkat perbedaan pendapat tertinggi sejak 1992.
Dikutip dari CNBC internasional, keputusan FOMC ini diambil di tengah tekanan inflasi yang masih persisten serta bayang-bayang transisi kepemimpinan di bank sentral AS. Keputusan ini juga menjadi kali ketiga berturut-turut FOMC mempertahankan suku bunga, setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemangkasan pada tahun lalu.
Alih-alih keputusan rutin, hasil voting justru menunjukkan perpecahan tajam dengan komposisi 8–4. Ini menjadi salah satu tingkat dissent tertinggi dalam lebih dari tiga dekade, terakhir terjadi pada 1992.
Gubernur Stephen Miran kembali berbeda pendapat dengan mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sementara tiga pejabat regional, Beth Hammack (Cleveland), Neel Kashkari (Minneapolis), dan Lorie Logan (Dallas), yang setuju menahan suku bunga, namun menolak adanya sinyal pelonggaran kebijakan ke depan.
Ketiga pejabat tersebut menyoroti penggunaan bahasa dalam pernyataan kebijakan yang dinilai terlalu membuka peluang pemangkasan lanjutan, meski inflasi belum benar-benar mereda.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menegaskan bahwa ‘inflasi masih tinggi’, sebagian dipicu oleh kenaikan harga energi global.
Kondisi ini membuat arah kebijakan moneter semakin rumit. Pasar kini bahkan memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga hingga akhir tahun, mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed akan bertahan dalam mode ‘wait and see’ lebih lama, bahkan hingga 2027.
Padahal, pada pertemuan Maret, proyeksi The Fed masih membuka ruang satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini, sebelum menuju level netral sekitar 3,1% pada 2027.
Di sisi lain, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Data tenaga kerja mencatat penambahan 178.000 pekerjaan pada Maret, dengan tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Namun inflasi yang bertahan di atas 3% sejak akhir 2023 menjadi tantangan utama, terutama di tengah kebijakan tarif dan lonjakan harga energi yang memperpanjang tekanan harga.
Dalam konferensi pers usai keputusan, Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal bahwa dirinya akan tetap berada di Dewan Gubernur tanpa batas waktu pasti, sambil menunggu penyelesaian investigasi renovasi kantor pusat The Fed.
Langkah ini memunculkan spekulasi baru terkait transisi kepemimpinan, terutama setelah Senat AS mulai memproses nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed berikutnya. Jika disahkan, ini akan menjadi pergantian kepemimpinan pertama sejak Powell menjabat pada 2018.
Selama masa jabatannya, Powell dikenal mampu menjaga konsensus internal. Namun keputusan kali ini menunjukkan meningkatnya fragmentasi kebijakan di tengah tekanan ekonomi dan politik dari Gedung Putih.
Meski demikian, Powell menyampaikan ucapan selamat kepada Warsh atas kemajuan pencalonannya.
Biasanya, ketua The Fed akan mengundurkan diri setelah penggantinya resmi menjabat. Namun Powell menegaskan akan tetap bertahan hingga investigasi renovasi gedung The Fed selesai. Masa jabatannya sendiri baru berakhir pada Januari 2028.
“Saya terdorong oleh perkembangan terbaru, dan saya mengamati langkah-langkah terakhir dalam proses ini dengan cermat,” kata Powell.
Jaksa AS Jeanine Pirro sebelumnya telah menyerahkan penyelidikan renovasi kantor pusat The Fed kepada inspektur jenderal Departemen Kehakiman. Jika Powell tetap bertahan hingga proses ini selesai, ini akan menjadi pertama kalinya sejak 1948 seorang ketua The Fed tidak langsung meninggalkan Dewan Gubernur setelah masa jabatannya.
Tekanan terhadap The Fed bukan hal baru. Pada era Ketua Marriner Eccles, Presiden Harry S Truman juga menekan bank sentral AS untuk menjaga suku bunga rendah guna menekan biaya pinjaman pemerintah. Konflik tersebut kemudian berujung pada Treasury-Fed Accord 1951 yang memperkuat independensi The Fed.
Warsh sendiri pernah menyebut perlunya memperbarui kesepakatan tersebut agar sesuai dengan kondisi saat ini, di mana kepemilikan obligasi The Fed mencapai sekitar US$ 6,7 triliun.
Powell sendiri kerap menegaskan pentingnya independensi bank sentral. Dengan tetap bertahan sebagai gubernur, Powell masih dapat mempengaruhi arah kebijakan, sekaligus menunda kesempatan presiden untuk menunjuk anggota baru tambahan.
Menurut analis Josh Jamner dari ClearBridge Investments, masuknya Kevin Warsh tidak akan mengubah keseimbangan hawks dan dovish di FOMC secara signifikan. “Karena Warsh akan mengambil kursi Stephen Miran, sementara kursi Powell untuk sementara tidak akan tersedia,” kata Jamner.
sumber : investor.id
