Harga Minyak Terjebak Antara Krisis Supply dan Keluarnya UEA
Pergerakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada dalam tekanan naik yang signifikan, menembus level psikologis 100 USD per barel. WTI diperdagangkan naik 3,87% di level $103,51 per barel saat berita ini ditulis Pukul 15.45 WIB pada hari Rabu. Faktor pendorong utama adalah krisis di Selat Hormuz yang kian memanas. Laporan terkini menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, menginstruksikan perpanjangan kebijakan yang memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Blokade di jalur distribusi vital ini—yang mengangkut sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak dunia—menyebabkan kekhawatiran serius akan terjadinya supply shock global. Kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran membuat pasar kehilangan harapan akan solusi diplomatik jangka pendek.
Sentimen pasar juga diguncang oleh pengumuman mengejutkan dari Uni Emirat Arab yang memutuskan untuk keluar dari keanggotaan OPEC efektif per 1 Mei 2026. Sebagai salah satu produsen terbesar ketiga di dalam kartel tersebut, langkah UEA memberikan sinyal dualistik bagi pasar. Di satu sisi, keluarnya UEA berpotensi menambah pasokan global di masa depan karena mereka tidak lagi terikat oleh kuota produksi OPEC. Namun, di sisi lain, ketidakpastian ini justru menambah volatilitas jangka pendek karena merusak soliditas OPEC+ dalam mengendalikan harga, yang pada akhirnya memicu aksi spekulasi di pasar berjangka WTI.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah domestik Amerika Serikat mencatatkan penurunan yang tidak terduga. Penurunan ini didorong oleh anjloknya angka impor ke level terendah dalam sejarah, sebagai imbas langsung dari gangguan pelayaran di jalur internasional. Sementara itu, ekspor minyak mentah AS justru melonjak karena negara-negara di Asia dan Eropa mulai mengalihkan permintaan mereka ke Pantai Teluk AS guna mencari alternatif pasokan yang lebih aman. Penurunan stok di pusat distribusi utama, seperti Cushing, Oklahoma, memberikan dukungan fundamental yang kuat bagi kenaikan harga WTI hari ini.
Kenaikan harga minyak WTI yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut mulai berdampak pada ekonomi riil secara global. Di sektor domestik, penyesuaian harga BBM nonsubsidi di berbagai negara menjadi tak terhindarkan, yang diperkirakan akan memicu kenaikan biaya logistik. Selain itu, lonjakan harga energi ini telah merembet ke pasar pangan, dengan kenaikan harga komoditas seperti minyak sawit hingga 20% akibat tingginya biaya input produksi dan transportasi. Kondisi ini menekan daya beli konsumen dan memaksa otoritas moneter untuk kembali meninjau kebijakan inflasi mereka di kuartal kedua tahun 2026.
Secara keseluruhan, pasar minyak mentah WTI saat ini berada dalam fase bullish yang didorong oleh ketegangan geopolitik murni. Meskipun ada potensi penambahan pasokan dari UEA di masa depan, fokus pelaku pasar saat ini tertuju sepenuhnya pada risiko fisik di Timur Tengah. Jika perundingan damai terus menemui jalan buntu dan blokade Selat Hormuz tetap diberlakukan, harga WTI diprediksi akan dengan mudah menembus angka 104 USD dan menguji level resistansi berikutnya di kisaran 105 USD hingga 106 USD per barel. Sebaliknya, setiap tanda-tanda de-eskalasi diplomatik akan menjadi katalis utama bagi koreksi harga yang tajam.
sumber : reuters
