Harga Minyak Naik, Ketidakpastian di Selat Hormuz Menjadi Pemicunya

Harga minyak mentah WTI berada di kisaran $85 – $87 per barel, setelah minggu lalu mengalami lonjakan tajam di atas $100. WTI diperdagangkan naik 0,21% di level $86,06 per barel saat berita ini ditulis Pukul 15.45 WIB pada hari Selasa, menandakan bahwa pasar sedang berada dalam fase konsolidasi setelah volatilitas ekstrem.

Faktor utama yang menggerakkan harga minyak saat ini adalah ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait situasi di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia, dan gangguan di area tersebut sempat mendorong harga melonjak hingga hampir 7% dalam satu hari. Namun, munculnya kembali harapan pembicaraan damai membuat harga minyak terkoreksi karena potensi peningkatan supply global.

Selain itu, pasar saat ini sedang mengalami perubahan cepat dari risk premium tinggi ke normalisasi sementara. Ketika konflik memanas, harga minyak melonjak karena kekhawatiran supply shock. Namun saat muncul sinyal negosiasi, risk premium langsung berkurang dan harga turun cepat. Fenomena ini membuat pergerakan WTI menjadi sangat fluktuatif dan sering mengalami spike lalu reversal dalam waktu singkat.

Di sisi fundamental supply, kondisi global sebenarnya masih tergolong ketat (tight supply). Gangguan distribusi, kerusakan infrastruktur energi, serta terbatasnya aliran tanker menyebabkan pasokan belum sepenuhnya pulih. Bahkan, beberapa analis memperingatkan bahwa gangguan ini bisa berlangsung lama dan menyebabkan defisit supply signifikan hingga akhir 2026 jika konflik tidak segera diselesaikan.

Namun, ada faktor yang mulai menahan kenaikan harga minyak, yaitu kekhawatiran terhadap permintaan global (demand). Harga energi yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan konsumsi dan aktivitas ekonomi. Jika kondisi ini berlanjut, pasar bisa mengalami apa yang disebut “demand destruction”, di mana konsumsi turun drastis akibat harga yang terlalu mahal.

Selain itu, pasar juga memperhatikan perkembangan diplomasi dalam beberapa hari ke depan. Jika pembicaraan damai benar-benar terjadi dan menghasilkan kesepakatan, maka potensi kembalinya pasokan dari Iran dapat menekan harga minyak lebih lanjut. Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau konflik meningkat, harga minyak berpotensi spike kembali dengan sangat cepat.


sumber : reuters