Harga Emas Tersungkur, Sempat Sentuh Level Terendah Sepekan
Harga emas dunia tersungkur pada perdagangan Senin (20/4/2026), bahkan sempat menyentuh level terendah dalam sepekan di tengah panasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Tekanan datang dari penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi.
Harga emas spot ditutup turun 0,2% ke level US$ 4.820,62 per ons, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sejak 13 April 2026.
Dikutip dari CNBC Internasional, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan emas. Mata uang Negeri Paman Sam sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan sebelum akhirnya memangkas kenaikan dan diperdagangkan naik tipis 0,1%.
Tidak hanya itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga ikut menambah tekanan, karena meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menilai, situasi di Timur Tengah kembali memanas dan berpotensi mengubah arah pergerakan emas dalam jangka pendek.
“Ketegangan yang meningkat bisa mendorong lonjakan harga minyak, yang pada akhirnya memperkuat dolar dan yield obligasi. Ini membuat prospek emas cenderung melemah dalam waktu dekat,” ujarnya.
Ketegangan terbaru dipicu oleh aksi AS yang mengambil alih kapal kargo Iran, memicu ancaman balasan dari Teheran. Kondisi ini membuat peluang tercapainya kesepakatan damai kembali diragukan.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan, terutama karena jalur penting Selat Hormuz masih mengalami hambatan.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya justru berkurang saat suku bunga global tinggi. Tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat konflik geopolitik bisa membuat suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama, sehingga menekan permintaan emas.
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan, pelaku pasar saat ini lebih fokus pada sentimen negatif bagi emas.
“Trader memilih faktor bearish seperti penguatan dolar dan kenaikan yield. Secara teknikal, target kenaikan berikutnya adalah jika harga mampu menembus level resistensi kuat di US$ 5.000 per ons troy,” jelasnya.
Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak stabil dan ditutup di US$ 79,7 per ons.
sumber : investor.id
