Harga Emas Cenderung Stabil, Pasar Cermati Perkembangan Negoisasi AS-Iran
Harga emas dunia cenderung stabil pada perdagangan Kamis (16/4/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan pada hari sebelumnya. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga global.
Harga emas spot ditutup stabil di level US$ 4.790,74 per ons.
Dikutip dari Reuters, pergerakan emas sebelumnya sempat tertekan pada Maret 2026, setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan ketatnya likuiditas global.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil (zero-yield asset) biasanya menjadi kurang menarik bagi investor.
Namun, harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran mulai mengangkat kembali harga emas. Jika konflik mereda, harga energi berpotensi turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga bisa melunak, faktor yang umumnya mendukung penguatan logam mulia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, melalui media sosial bahwa gencatan senjata dijadwalkan mulai berlaku pukul 17.00 waktu setempat. Langkah ini ditujukan untuk menghentikan konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon yang kembali memanas akibat perang AS-Israel melawan Iran.
Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures David Meger menilai, bahwa meredanya ketegangan geopolitik dapat membuka peluang penurunan suku bunga The Fed. “Jika ketegangan AS-Iran mereda atau perang berakhir, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar, dan itu bisa menjadi katalis positif bagi logam mulia,” ujarnya.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga AS pada tahun ini berada di kisaran 32%.
Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran mingguan di AS tercatat menurun, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Meski demikian, ketidakpastian akibat konflik geopolitik membuat pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Sementara itu, harga perak spot turun tipis 0,01% dan ditutup di US$ 78,4 per ons. Pasar perak juga menghadapi tekanan struktural, dengan defisit pasokan yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut.
Sejak 2021, sekitar 762 juta ons perak telah terserap dari cadangan, meningkatkan risiko pengetatan likuiditas meskipun prospek permintaan melemah.
sumber : investor.id
