Harga Minyak Lanjutkan Penguatan, Setelah Pelaku Pasar Khawatirkan Gangguan Pasokan
Harga minyak mentah WTI menunjukkan penguatan lanjutan dan kembali mendekati level psikologis $100 per barel, diperdagangkan di $98,49 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.15 WIB pada hari Jumat. Kenaikan ini terjadi setelah pasar kembali mengkhawatirkan gangguan pasokan global, meskipun sebelumnya sempat terjadi penurunan tajam akibat pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak hari ini adalah kembalinya eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah. Laporan terbaru menunjukkan adanya serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi yang menyebabkan penurunan produksi secara signifikan. Selain itu, ketegangan antara Iran, Israel, dan wilayah sekitarnya kembali meningkat, sehingga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Selain itu, kondisi Selat Hormuz yang masih terganggu menjadi faktor krusial. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia (sekitar 20% pasokan global), dan hingga saat ini belum sepenuhnya kembali normal. Bahkan, adanya pembatasan lalu lintas kapal tanker serta potensi penutupan kembali membuat pasar memasukkan “risk premium” yang cukup besar ke dalam harga minyak.
Di sisi lain, pasar juga mulai menyadari bahwa gencatan senjata yang diumumkan bersifat rapuh dan belum menyelesaikan masalah utama. Beberapa pihak bahkan menilai bahwa konflik bisa kembali memanas sewaktu-waktu, sehingga harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan berita geopolitik. Hal ini menyebabkan pergerakan harga menjadi sangat volatil, dengan kecenderungan naik selama risiko masih tinggi.
Menariknya, terjadi perbedaan antara pasar futures dan pasar fisik. Meskipun sebelumnya harga futures sempat turun tajam, harga minyak fisik justru melonjak karena pasokan nyata di lapangan masih terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa secara fundamental, pasar minyak masih mengalami ketidakseimbangan antara supply dan demand, yang menjadi dasar kuat bagi harga untuk tetap tinggi.
Namun demikian, terdapat faktor penahan kenaikan harga. Beberapa lembaga keuangan global mulai menurunkan proyeksi harga minyak jangka pendek, mencerminkan kemungkinan normalisasi jika konflik mereda. Selain itu, adanya upaya diplomasi lanjutan juga memberikan harapan bahwa distribusi energi dapat kembali stabil, meskipun prosesnya diperkirakan memakan waktu cukup lama.
sumber : reuters
